SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Senin, 07 Mei 2012

MINGGU PASKAH VI (B) - Minggu, 13 Mei 2012


KASIHILAH SEORANG AKAN YANG LAIN
Kis 10:25-26.34-35.44-48;
1Yoh 4:7-10;
Yoh 15-9-17

    Biasanya, ketika kita menerima sesuatu dari orang lain, lalu kita mengucapkan terima kasih. Kenapa orang lain memberi sesuatu kepada kita? Kalau tidak ada kasih mana mungkin orang lain memberi sesuatu kepada kita. Kalau begitu orang lain telah lebih dulu mengasihi kita. Sebelum kita tahu apa itu kasih, kita sudah dikasihi. Sebelum kita sanggup berkata terima kasih, kita telah menerima kasih itu.

    Bayangkan, kalau orang tua kita tidak mengasihi kita, mana mungkin ada kita sampai saat ini. Kita ada sampai saat ini berkat kasih orang tua kita. Sejak dalam kandungan, kita telah dikasihi oleh kedua orang tua kita. Kita telah dijaga, dilindungi dan disayangi oleh bapak dan ibu kita. Sejak kita belum bisa apa-apa, hanya bisa nangis, kita telah dipelihara dan disayangi oleh kedua orang tua dan saudara-saudara kita. Kalau begitu kita ini adalah buah cintakasih kedua orang tua dan saudara-saudari kita. Sebelum kita mengenal cinta kasih, sejak awalnya telah lebih dahulu dikasihi. Baru kemudian kita mengenal kasih dan sanggup mengasihi.

    Seperti yang dikatakan Santo Yohanes pada bacaan kedua dalam suratnya yang pertama hari ini. ”Bukan kita telah mengasihi Allah tetapi Allahlah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai silih bagi dosa-dosa kita”. Kalau begitu kita telah dikasihi Allah lebih dulu. Kasih Allah itu telah mendahului hidup kita dan telah ada sebelum kita ada. Kasih Allah nampak dalam semua ciptaan, tumbuhan, binatang dan sesama manusia. Semuanya yang menjadi tempat dan lingkungan hidup kita adalah karya kasih Allah.

    Kasih Allah yang paling besar nampak dalam Putra-Nya Yesus Kristus, yang dianugerahkan bagi keselamatan kita. Karena kasih-Nya pada kita Ia rela menyerahkan nyawa-Nya untuk kita manusia dan para sahababat-Nya. Buah dari kasih itu nampak pada perhatian dan dukungan kita kepada sesama. Tidak dibatasi oleh kelompok atau golongan tetapi kasih itu memancar kepada semua orang.

    Sama seperti pada bacaan pertama tadi Petrus terbuka akan karya Tuhan pada bangsa-bangsa lain. Karya Tuhan nampak pada tindakan manusia yang saling mengasihi. Kalau kita telah mengasihi satu sama lain sama dengan telah melaksanakan kehendak Yesus sendiri, yaitu ”supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu”. Sebagaimana Yesus yang mengalami kasih Bapa karena berpegang pada kehendak Bapa, kasih Yesus juga akan mengalir pada kita, bila kita berpegang pada sabda-Nya dan melakukan kehendak Yesus.

    Marilah kita yang telah mengalami kasih Yesus bersama-sama menciptakan kasih persaudaraan, sebagaimana Kristus telah memberi perintah kepada kita. ”Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”. (FX. Mgn)

Senin, 30 April 2012

MINGGU PASKAH V (B) Minggu, 6 Mei 2012

BARANGSIAPA TINGGAL DI DALAM AKU, DAN AKU DI DALAM DIA, IA BERBUAH BANYAK

Kis 9:28-31;        
1Yoh 3:18-24;                   
Yoh 15-1-8

    Soklipo ditanya tetangganya, ”Kamu setiap Minggu ke gereja, menjadi pengurus kelompok paguyuban, aktif di kelompok Kitab Suci, menulis di kolom majalah. Dibayar berapa kamu sebulannya?
    
Soklipo pun menjelaskan: ”Wah, ke gereja itu sudah menjadi kebutuhan untuk bisa bertemu Tuhan dan sesama. Semua yang saya lakukan itu adalah ”buah dari penghayatan iman” pada Yesus Kristus yang telah menyelamatkan diri saya. Itu adalah sebuah pilihan dan konsekuwensinya sebagai anggota Gereja harus saling melayani. Hanya perbuatan kecil yang bisa saya lakukan. Jadi saya tidak dibayar atau dapat imbalan. Saya tidak mencari rezeki dari Gereja, yang penting bagi saya bisa bersatu dalam komunitas Gereja yang dipimpin oleh Yesus Kristus sebagai Pokok Anggur sejati. Saya sebagai ranting-ranting-Nya dituntut untuk menghasilkan buah-buah kehidupan berupa kebaikan, kebenaran dan keselamatan.”
    
       Seperti dalam Injil hari ini siapa yang tinggal di dalam Dia, akan berbuah banyak. Dia, Yesus Kristus adalah pokok anggur sejati dan kita semua adalah ranting-rantingnya. Kalau yang tidak berbuah akan dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah dibersihkan supaya lebih banyak berbuah.
    
    Sebuah perumpamaan yang sangat jelas mengungkapkan bagaimana seharusnya seorang beriman harus berhubungan erat dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus yang digambarkan sebagai batang anggur yang mengandung dan menyalurkan sari kehidupan ilahi. Siapa pun yang percaya kepada-Nya adalah ranting-ranting yang melekat pada batang itu, sehingga mereka selalu menerima kehidupan dari Tuhan. Berkat kehidupan dari Tuhan itulah, manusia bertumbuh dalam iman. Bahkan bisa menghasilkan buah berlimpah.
   
      Bagaimana seharusnya?
     Kita dituntut untuk berbuat sekecil apa pun untuk Gereja agar iman kita berbuah. Buah iman adalah kasih, yaitu saling mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran. Semakin hidup kita menghasilkan banyak buah penghayatan iman yang dapat dinikmati orang lain, semakin nyatalah kesaksian hidup kita sebagai murid Kristus. Namun kita tidak dapat menghasilkan buah yang baik dari diri kita sendiri, kalau kita terpisah dari-Nya. Kita harus bersatu dengan pokok anggur kebaikan, kebenaran dan keselamatan, yaitu Yesus Kristus sebagai jaminan bagi kita untuk berbuah banyak.
     
     Karena kita telah dipersatukan dengan pokok anggur yang sama, kita hidup dari sumber yang sama dan bergantung pada sumber yang sama. Tentu harus mau bekerja sama dengan satu sama lainnya, karena kita satu saudara. Walau kita berbentuk ranting-ranting yang berbeda tetapi tetap dalam kesatuan dengan Yesus yang sama. Kita berpikir dan berbuat sesuai kehendak-Nya, bukan kehendak kita sendiri.
    
     Marilah kita sebagai ranting-ranting anggur menghasilkan buah yang berlimpah, dimulai dari hal-hal kecil. Belajar dari pengalaman Soklipo yang melakukan perbuatan kecil tanpa pamrih untuk Gereja. Bukan mencari penghasilan dari Gereja dengan melakukan akal-ukil untuk kepentingan pribadi, agar kita sebagai ranting-ranting anggur tidak dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Tetapi kalau berbuah banyak kita akan pantas menjadi murid-murid-Nya dan dimuliakan Bapa. (FX. Mgn)

Senin, 23 April 2012

HARI MINGGU PASKAH IV (B) - (Hari Minggu Panggilan) Minggu, 29 April 2012

SETIALAH DALAM PANGGILAN SEPERTI GEMBALA YANG BAIK

Kis 4:8-12;

1Yoh 3:1-2;

 Yoh 10:11-18

      Seorang pastor diberitahu oleh Pengurus Lingkungan, bahwa ada warganya yang sedang sakit di rumah sakit. Oleh keluarganya mohon agar si sakit bisa dimintakan Sakramen Pengurapan orang sakit kepada imam. Pengurus Lingkungan lalu menghubungi pastor, kemudian ia pun bergegas ke rumah sakit ingin mendampingi pastor. Tetapi ia heran, ternyata pastornya sudah tiba lebih dulu daripada ia sendiri yang memberitahukannya. 

      Pada lain kesempatan, pastor yang sama diundang untuk menghadiri acara ”midodareni” calon mempelai, yaitu ibadat sabda pada malam sebelum pemberkatan perkawinan. Warga yang mengundang: ”Apakah pastor perlu dijemput?”  Pastornya: ”Tidak usah, kasih alamatnya saja”. Dan pastor pun datang pada acara ”malam midodareni” itu, setelah sehari sebelumnya ia mencari alamat yang diberikan kepadanya. Kenapa pastor mau melakukan semuanya itu? Ia mau melakukan semuanya itu karena setia akan panggilannya, belajar dari Sang Gembala Baik. 

      Injil hari ini dengan jelas Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah gembala yang baik. Gembala yang baik mengenal seluruh domba-domba-Nya secara pribadi dan rela berkorban demi keselamatan domba-domba-Nya. Sifat demikian bisa dilihat dari kerelaan-Nya melakukan kehendak Bapa-Nya dengan menyerahkan hidup-Nya guna membebaskan manusia dari belenggu dosa. Gembala yang baik tidak lari menyelamatkan dirinya sendiri dan meninggalkan domba-dombanya bila dalam bahaya, tetapi mendahulukan domba-dombanya dan kalau memungkinkan baru ia menyelamatkan dirinya. Gembala yang baik tahu persis keadaan domba-dombanya karena ia mengenalnya secara pribadi. Mengenal secara pribadi berarti mengasihi. Mengasihi mereka maka Ia mau menyertai, membimbing, mengarahkan dan melindunginya. 

      Perumpamaan gembala ini memang ditujukan bagi Yesus sendiri karena Ia sebagai Gembala yang baik dan kita sebagai domba-domba-Nya. Kita sebagai domba-domba harus dekat dengan Gembalanya agar tidak tersesat dan memperoleh bimbingan dan keselamatan. Dalam bimbingan-Nya kita akan sampai kepada kesatuan dengan Allah dan memperoleh keselamatan. Berkat penggembalaan-Nya kita tidak perlu takut karena sudah mendapat jaminan bahwa dalam setiap datang bahaya yang mengancam, Dia sendiri akan berada di depan menghadapi-Nya. 

      Semoga dalam perumpamaan ini bisa mengarahkan kita agar tetap setia akan panggilan kita masing-masing dan berusaha mengejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa pun posisi dan kedudukan kita, entah sebagai kepala keluarga, anggota keluarga, pendidik, koordinator kelompok atau pimpinan perusahaan, diharapkan kita bisa bersikap seperti gembala yang baik terhadap mereka yang dipercayakan kepada kita. 

        Marilah kita belajar dari Sang Gembala Baik untuk menjadi gembala-gembala yang baik dan setia dalam panggilan kita untuk melayani sesama. Sama seperti semangat dan tindakan yang dilakukan seorang pastor di atas tadi. (FX. Mgn)

Senin, 16 April 2012

HARI MINGGU PASKAH III (B) Minggu, 22 April 2012

”KAMU ADALAH SAKSI DARI SEMUANYA INI”

Kis 3:13-15;
1Yoh 2:1-5;
Luk 24:35-48      

        Seorang ibu terbaring di rumah sakit. Semua tetangga mengunjunginya termasuk tukang ojek dan tukang becak pun datang. Pastor juga datang memberi semangat dan mendoakan agar cepat sembuh. Kenapa kok tukang ojek dan tukang becak juga mau datang mengunjunginya? ”Ibu itu sangat dekat dengan kami. Bila naik ojek atau naik becak ibu itu menanyakan keluarga kami, apakah sehat-sehat dan anak-anak apakah sudah pada sekolah dst. Bahkan ketika kami kesulitan dia mau datang membantu tanpa diminta”.            
        Seorang bapak kehilangan barang karena dicuri orang, tetapi dengan ”legawa” ia mengatakan bahwa, ”Tidak apa-apa karena saya sudah lama memakainya dan sudah saya bayar lunas ketika saya membelinya.” Suatu saat ketahuan yang mengambil barangnya, namun bapak itu malah memaafkan, ”Biarlah dia mengambil, ia mungkin terpaksa dan terdesak karena kebutuhan. Tidak apa, saya sendiri hidup karena pengampunan Tuhan, maka wajarlah kalau saya sedikit belajar mengampuni kesalahan orang lain.” Dua orang, yaitu seorang ibu dan seorang bapak tadi dengan cara sederhana mencoba melaksanakan semangat Tuhan, yaitu mencintai dan mengampuni sesamanya dengan tidak memandang orang.      
       Semangat Injil minggu ini menunjukkan bahwa Yesus mencintai dan mengampuni semua orang sampai wafat di kayu salib, dan pada hari ketiga Ia bangkit dari antara orang mati. Kebangkitan-Nya membuka hati dan kepercayaan para murid bahwa Dia sungguh hadir di tengah mereka. Ia membuka hati mereka akan rahasia kedatangan-Nya, bahwa Mesias harus menderita dan mati untuk pengampunan dosa manusia. Hal ini menjadi lebih jelas bagi murid-murid-Nya ketika mereka sedang membicarakan pengenalannya dengan Yesus, yaitu saat memecah-mecahkan roti serta membagi-bagikan-Nya, lalu Ia lenyap dari pandangan mereka. Namun di saat mereka ”bengong” tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kehadiran Yesus yang tidak disangka-sangka, ”Salam damai bagimu”. Salam dari Yesus itu menyejukkan hati mereka. Yesus minta makan ikan goreng agar tidak dikira hantu. Dia juga menunjukkan bekas-bekas luka-Nya supaya mereka percaya bahwa Ia benar-benar hadir menguatkan hati mereka. Setelah itu mereka mulai terbuka matanya dan mulai saat itu mereka lebih mantap lagi bahwa Yesus Tuhan sungguh bangkit. Mereka diminta Tuhan menjadi saksi atas peristiwa itu. ”Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” Peristiwa itu merupakan titik awal perdamaian antara manusia dan Allah. Maka Yesus menginginkan pertobatan dan pengampunan itu diwartakan dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia.        
      Kita semua yang telah menjadi murid-Nya juga diminta sebagai saksi atas kebangkitan Tuhan. Menjadi saksi pertobatan dan pengampunan. Menyaksikan dan menyatakan bahwa sungguh Tuhan datang untuk mengampuni dosa manusia, sehingga manusia dapat berhubungan lebih baik lagi dengan Allah dan sesama. Dengan diampuni segala dosa kita, berarti kita telah diselamatkan.

        Bagaimana sikap hidup kita?
        Marilah belajar hidup berdamai dengan Allah dan sesama sebagai wujud bahwa kita menjadi saksi kebangkitan Yesus yang membawa pengampunan dan keselamatan bagi umat manusia. Hidup dalam kedamaian dengan Allah, bila hidup kita sehari-hari nampak hidup dengan damai dengan sesama. Karena cinta kepada Allah hanyalah kentara bila kita juga mencintai sesama, seperti hidup seorang ibu dan seorang bapak di atas tadi. (FX. Mgn)

Senin, 09 April 2012

HARI MINGGU PASKAH II (B) - Minggu, 15 April 2012

“BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TIDAK MELIHAT, NAMUN PERCAYA" 

Kis 4:32-35; 1Yoh 5:1-6; Yoh 20:19-31 

      Seringkali kita mendengar bahwa orang yang percaya kepada Tuhan disebut orang beriman. Namun orang yang beriman, tidak sekedar mengatakan bahwa aku percaya kepada Tuhan. Orang kalau beriman mestinya harus nyata dalam kehidupan, dan merasakan bahwa Tuhan beserta kita. Lalu bagaimana dengan iman kita? 

        Yesus sesudah wafat dan dikuburkan, tiga harinya Ia dibangkitkan dari orang mati. Bisa kita bayangkan betapa bahagianya perasaan hati Yesus ketika Ia dibangkitkan dari orang mati. Tentu sangat gembira dan bahagia. Kebahagiaan Yesus ditunjukkan pertama-tama kepada para wanita yang akan merawat makam-Nya. Kenapa Yesus menampakkan diri-Nya? Hal ini supaya diwartakan kepada segala bangsa di dunia terutama kepada Petrus dan para murid-Nya. Lalu bagaimana kenyataannya? Ternyata tidak semua murid-Nya langsung percaya begitu saja. Salah satunya Thomas, yang menyanggah: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Atas tidak kepercayaan Thomas itu, maka Yesus menegor Thomas yang kurang percaya yang menuntut bukti akan penampakan Tuhan bagi dirinya. 

       Yesus justru memuji orang yang percaya kepada-Nya yang tanpa meminta suatu penampakan atau bukti. ”Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Sikap Thomas rupanya sering menjadi sikap kita. Iman kita sering goyah kala kita menghadapi tantangan. Kita lari dari Yesus dan sering lebih percaya kepada kekuatan lain, lebih percaya isu atau kabar burung, dan omongan warung kopi. 

       Dalam Injil hari ini, Yesus menuntut dari para murid-Nya supaya mereka tetap percaya kepada-Nya dan kehadiran-Nya, walaupun Ia akan hanya akan hadir beserta mereka melalui Roh Kudus. Percaya selalu berarti pasrah kepada Tuhan tanpa banyak tuntutan atau bukti. Sebenarnya nasihat Yesus kepada Thomas juga ditujukan kepada kita. Kita tidak harus membuktikan dulu setelah melihat atau meraba Ia secara inderawi. Sebaliknya kita harus percaya bahwa Ia tetap dan selalu hadir di tengah-tengah kita melalui teman seperjalanan dalam iman dan sakramen-sakramen-Nya. Yesus akan menyertai kita selalu, kapan pun dan di mana pun seperti yang pernah Ia katakan kepada kita, bahwa “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Iman demikianlah yang dituntut Yesus hidup dalam diri kita. Sebab tanpa merasakan bahwa disertai Yesus, maka iman kita sia-sia. 

       Iman yang benar ialah kerelaan kita berserah diri kepada Allah dan rela melaksanakan perintah-Nya. Sedangkan perintah yang utama ialah mencintai Allah dan sesama. Hal ini telah dilakukan oleh umat Gereja perdana dalam mewujudkan iman mereka dalam hidup. Mereka lebih mengutamakan kesejahteraan bersama daripada diri sendiri. Dan mereka pun tidak memiliki sikap mumpung. Bagaimana dengan kita? Seharusnya kita yang telah dipersatukan dalam ekaristi harus lebih rela berbagi, karena iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Iman yang diwujudkan dalam kehidupan nyata akan mendatangkan berkat bagi kita. 

       Marilah mohon berkat Allah agar iman kita kepada Yesus semakin diteguhkan dan mampu mewujudkannya dalam kehidupan nyata, walau belum pernah melihat Dia namun kita percaya akan sabda-Nya, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (FX. Mgn)

Senin, 02 April 2012

HARI MINGGU PASKAH (B) Hari Raya Kebangkitan Tuhan. Minggu, 8 April 2012

BELAJAR KEPADA MARIA MAGDALENA MEWARTAKAN KEBANGKITAN TUHAN

Kis 10:34a.37-43;
Kol 3:1-4;
Yoh 20:1-9 atau Mark 16:1-8

    Seorang bapak yang baru saja mengalami musibah karena kepergian anggota keluarganya, ada perasaaan yang macam-macam di dalam pikirannya. Kenapa ia mati, kenapa harus menimpa keluarga saya? Sulit sekali mau menerima kenyataan seperti ini, walau semua orang tak terkecuali termasuk bapak itu akan mengalami hal yang sama. Namun setelah berlalunya waktu bapak itu menyadari bahwa pada saatnya akan mengalami juga.
       Demikian juga iman para rasul juga tergoncang setelah kematian Gurunya di kayu salib dan dimakamkan jenazah-Nya. Ketika tiga harinya setelah pemakaman dapat informasi bahwa Yesus telah bangkit tetapi para murid termasuk Petrus masih belum percaya. Namun lambat laun iman mereka tumbuh, meskipun dihantui oleh keraguan dan kebingungan, antara percaya dan tidak. Ini terjadi ketika pagi-pagi benar Maria Magdalena datang ke makam Yesus, tetapi didapati batu penutup makam telah terbuka. Dalam ketakutannya ia melihat seorang malaikat nampak seperti pemuda memakai jubah putih, mengatakan bahwa Yesus dari Nazareth itu sudah bangkit, sudah tidak ada disini. Katakan kepada para murid-Nya dan Petrus, bahwa Ia telah mendahului kamu ke Galilea.
        Kenapa Maria Magdalena disebut-sebut dalam Injil hari Paskah ini. Bahkan Maria Magdalenalah orang pertama-tama yang diutus Tuhan untuk mewartakan kebangkitan-Nya kepada para murid yang lain termasuk Petrus. Mengapa Maria Magdalena begitu ditokohkan dalam peristiwa kebangkitan Tuhan ini? Mengapa ia begitu dicintai oleh Tuhan sehingga Marialah yang pertama-tama boleh melihat Dia yang telah bangkit dan boleh mewartakan kebangkitan-Nya?
      Maria Magdalena pernah jatuh dalam dosa yang sangat dalam. Namun sesudah bertemu dengan Yesus, Maria mencoba bangkit dari kejatuhannya. Maria bangkit menjadi wanita yang lain sama sekali. Dan Yesus menjadi saksinya. Mungkin karena itu Yesus tidak pernah lupa akan wanita itu, sejak Maria membasahi kaki Yesus dengan air mata penyesalannya dan mengeringkan dengan rambutnya. Maria sungguh-sungguh telah bangkit dari keterpurukannya. Maria telah merayakan Paskah yang pertama dengan tepat. Paskah Kristus menjadi Paskah Maria juga. Oleh sebab itu, ia layak melihat Kristus yang telah bangkit dan dipercayakan pula untuk mewartakannya. 
     Semoga kita juga mau mewartakan kebangkitan Kristus, menimba pengalaman iman Maria Magdalena tadi yang awalnya ada keragu-raguan, namun kemudian memperoleh jawaban pasti dari para malaikat: “Ia sudah bangkit dan mendahului kamu ke Galilea.”
       Marilah menyadari bahwa kita ini yang tidak lebih baik dari Maria Magdalena sebelum mengenal Yesus. Namun, apakah sekarang setelah mengenal dan menjadi pengikut Kristus juga lebih baik dari Maria Magdalena setelah mengenal Yesus? Dan marilah kita belajar dari pengalaman iman seorang bapak yang kehilangan anggota keluarganya tadi. Awalnya tidak rela dan merasa kehilangan, tetapi karena kepasrahannya kepada Tuhan, mengarahkan imannya kepada Kristus yang bangkit menjadi Paskah bagi dirinya. (FX. Mgn) SELAMAT PASKAH. ALLELUYA.

Senin, 26 Maret 2012

HARI MINGGU PALMA (B) Mengenangkan Sengsara Tuhan Minggu, 1 April 2012

BELAJAR SETIA SEPERTI YESUS YANG SETIA MELAKSANAKAN KEHENDAK BAPA

Yes 50:4-7;
Flp 2:6-11;
Mrk 14:1-15:47
       
        Seorang ibu karena keterbatasannya dibujuk agar mau menerima tawaran bantuan, tetapi dengan syarat mau mengingkari iman dan prinsip hidupnya. Ibu itu menghadapi pertentangan batinnya antara ya atau menolak. Namun karena kesetiaan akan imannya dan memegang teguh akan prinsip hidupnya, ia menolak semua tawaran itu.
        Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus juga menghadapi pertentangan yang luar biasa antara apa yang bersifat ilahi dan apa yang bersifat insani atau manusiawi. Namun dibalik kedua sifat yang ilahi dengan sifat insani dan manusiawi yang bertentangan itu nampak sinar keagungan cinta kasih. Dalam diri Yesus kita temukan keagungan cinta kasih Allah kepada kita orang berdosa. Dari pihak Allah, Yesus adalah Putra Allah, tetapi karena kasih-Nya kepada kita, ”Ia mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.
Dari pihak manusia, kita melihat dan merasakan bahwa Ia berbuat baik, tetapi ditangkap dan diadili karena tuduhan palsu. Melalui pengkhianatan Yudas hanya karena uang. Petrus sendiri sebagai pengikut-Nya juga menyangkal-Nya, sebab iman kepercayaannya belum berani mengambil resiko besar. Yesus sanggup dan mampu menghadapi resiko yang besar itu. Dalam Kisah sengsara Yesus kita bisa melihat ”wajah” yang baru, dibandingkan dengan yang biasa dikenal atau diyakini pada waktu itu. Menurut gambaran umum pada waktu itu, Allah adalah Dia yang Mahakuasa ini tetap benar. Namun di sisi lain yang belum dikenal, yaitu Allah yang merendahkan diri dan menjadi sama dengan manusia, mengalami nasib manusia yang paling hina, baru ditemukan dalam Yesus.
Ia harus menghadapi pengadilan yang tidak jujur. Kaum Farisi dan para imam memaksa Pilatus mengambil keputusan yang palsu. Pilatus mengadili Yesus dengan hukuman mati, walaupun tak bersalah, karena ia takut kehilangan jabatannya. Namun Yesus tetap menghadapinya resiko itu karena Ia berpegang akan prinsip dan misi utamanya. Yesus tetap pada prinsip hidup-Nya dan setia akan panggilan hidup-Nya yaitu melaksanakan kehendak Bapa. Ketika Ia ditanya Pilatus tentang siapakah diri-Nya dan benarkah Engkau Raja? Ia tetap mengatakan bahwa diri-Nya adalah Raja. Ia tetap setia akan kehendak Bapa, walau dengan resiko mati di kayu salib. Karena kasihnya pada manusia sampai Ia rela mengorbankan diri-Nya sampai wafat di salib. Demikianlah, kasih mampu mengatasi segalanya. Betapa besar kesalahan dan dosa kita yang mendatangkan hukuman atas Yesus, tetapi kasih-Nya yang ilahi sekaligus manusiawi itu selalu terbuka mengampuni.
Lalu bagaimana sikap kita atas pengorbanan Yesus karena kasihnya pada kita? Kasih Yesus menuntut pula jawaban kasih kita kepada-Nya. Dalam Pekan Suci ini adalah kesempatan berharga untuk melakukan pertobatan, membenahi diri, membarui hidup sekaligus penyerahan diri kepada Allah yang kasih-Nya tak terbatas melalui Yesus Putra-Nya.
Marilah kita juga mau tetap setia akan panggilan kita masing-masih dengan berpegang teguh dan setia akan iman kepada Yesus Kristus. Seperti seorang ibu di atas yang setia akan imannya dan berpegang teguh akan prinsip hidupnya. (FX. Mgn)

Senin, 19 Maret 2012

HARI MINGGU PRAPASKAH V (B) Minggu, 25 Maret 2012

HIDUP BERMAKNA SEPERTI BIJI GANDUM UTAMA 

Yer :31:31-34; Ibr 5:7-9; Yoh 12:20-33

Sering kali dalam hidup ini mengalami saat-saat yang genting dan gawat, bahkan menyakitkan membuat ketakutan dan mungkin tidak tahan. Saat seseorang yang sedang menghadapi tuntutan hukum di pengadilan. Saat seorang yang menantikan keputusan dokter yang menyatakan bahwa sakitnya sudah parah dan tak tersembuhkan lagi. Saat seorang ibu yang sedang melahirkan dan harus menanggung sakit. Di balik ketakutan dan kecemasan itu ada kebahagiaan yang menanti.
Injil hari ini kita juga melihat bagaimana saat Yesus menghadapi saat yang gawat di mana akhir hidup-Nya telah tiba, kata-Nya: ”Saat-Ku telah tiba, Putra Manusia akan dimuliakan. Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke tanah dan mati, ia tetap sebiji saja, tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Demikian kata-kata Yesus ketika Ia memberitakan kematian-Nya, Ia mengibaratkan diri-Nya sebagai biji gandum yang harus mati. Setelah itu bertumbuh kemudian menghasilkan banyak biji. Yesus berbicara tentang biji gandum yang harus jatuh, pertama-tama mau dikatakan bahwa Ia sendiri yang dimaksud Biji Gandum itu. Ia adalah Biji Gandum Utama, yang harus jatuh untuk menghasilkan banyak buah.
Ketika para serdadu menikam lambung-Nya di salib, Biji Gandum Utama itu seolah-olah merekah. Ketika ia dikuburkan, Biji Gandum Utama itu seolah-olah ditanam. Ketika Ia bangkit dari kegelapan kuburan, Biji Gandum Utama itu bertumbuh dan mulai menghasilkan banyak buah! Ia rela mati agar menghasilkan banyak buah. Buah-buah itu ialah kita sebagai pengikut-Nya. Ia taat dan menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi kita. Kita semua memperoleh keselamatan berkat Benih Gandum Utama tadi. Dalam penderitaan dan wafat-Nya yang hina di salib, Tuhan menampakkan kemuliaan dan keagungan-Nya. Ia menjadi Penyelamat dan sungguh berarti bagi dunia.
Dengan belajar dari alam tadi, kita sebagai seorang beriman mestinya juga harus bermakna bagi orang lain. Ada kepedulian sosial dengan saling berbagi. Yang lebih berbagi kebahagiaan kepada yang berkekurangan, agar tidak ada kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin. Dengan berbagi kasih berarti hidup kita bukan hanya mementingkan diri tetapi juga mau mengosongkan diri demi sesama. Meneladan Dia yang mau mengosongkan diri-Nya dan mengorbankan diri-Nya demi kita. Dengan demikian kita pun harus rela merendahkan diri, melepaskan gengsi dan mengorbankan diri bagi sesama! Seperti Ia rela merendahkan Diri dan melepaskan keilahian-Nya. Yesus rela mengorbankan diri-Nya, bahkan sampai wafat di salib. Dengan begitu, Ia memberi hidup bagi kita. Itulah misteri hidup Yesus, yaitu misteri jalan kerendahan dan kerelaan untuk mati dan menjadi pokok keselamatan bagi semua umat manusia. (Ibr 5:9) Dengan wafat dan kebangkitan-Nya, Yesus menandai masa Perjanjian Baru, di mana Tuhan akan mengampuni kita, Tuhan tidak akan mengingat-ingat dosa kita lagi (Yer 31:31-34).
Berkat Dia yang tidak memperhitungkan dosa-dosa kita lagi, semoga kita memperoleh semangat baru untuk hidup yang semakin bertanggungjawab dengan mulai mengubah “cara hidup lama” dengan “hidup baru” seturut kehendak-Nya. Dan apabila kita menghadapi persoalan yang menghimpit hidup kita, semoga kita mampu menimba kekuatan dari pada-Nya, sebab Dia akan berjalan bersama kita dan rela memanggul salib demi kita. (FX. Mgn).

Senin, 12 Maret 2012

HARI MINGGU PRAPASKAH IV (B) Minggu, 18 Maret 2012

BERBAGI SEKECIL APAPUN MENGHADIRKAN ”TERANG”

2 Taw 36:14-16.19-23;
Ef 2:4-10;
Yoh 3;14-21

Hari ini kita telah memasuki minggu keempat Masa Prapaskah. Sejak Rabu Abu Gereja mengajak kita berpuasa dan berpantang selama empatpuluh hari. Bacaan-bacaan selama masa Prapaskah membawa kita ke suasana pertobatan: kembali pada Bapa. Gereja mengajak kita untuk membenahi diri, melihat kembali sepak terjang kita selama ini. Itulah tobat!
Injil hari ini, pertobatan digambarkan sebagai orang yang “datang kepada terang, agar menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam nama Allah” (Yoh 3:20). Siapa pun yang telah berbuat baik berarti telah hidup berdasarkan ”terang”. Perbuatan terang itu sesuai dengan ajakan Yesus yang menyatakan Diri sebagai terang yang datang ke dunia. Artinya kita harus meninggalkan segala perbuatan jahat yang sering tidak nampak. Kalau kita percaya kepada Yesus, berarti kita memilih untuk hidup dalam terang. Perbuatan kita adalah perbuatan yang boleh dan bisa diketahui oleh orang lain.
“Terang” juga bisa diistilahkan dengan “keterbukaan.” Artinya tidak ada yang ditutup-tutupi. Bukankah kita akan merasa aman-aman saja bila yang kita lakukan hal-hal yang baik. Tidak takut diketahui oleh orang lain karena bukan perbuatan jahat. Ini bukan berarti bahwa kita harus memamerkan tindakan baik kita di depan umum. Kita perlu bersikap wajar. Saya kira cukup baiklah bila yang kita lakukan sehari-hari dengan dilandasi hati dan motivasi yang jernih. Berangkat dari hati yang bersih tentu apa pun yang keluar dari dalam diri kita dan yang dilakukan akan berupa kebaikan.
Sebaliknya, ketika kita melakukan perbuatan jahat, akan merasa malu bila diketahui oleh orang lain. Namun harus diakui bahwa manusia, seringkali “lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat” (Yoh 3:19). Dalam diri kita seringkali ada pertentangan antara kata hati dengan tindakan atau perilaku. Karena memiliki kekuasaan dan kewenangan seringkali tergoda untuk menyalahgunakan. Lingkungan sekitar juga mempengaruhi perilaku kita misalnya: tempat kerja, teman-teman, kebiasaan-kebiasaan setempat dan situasi serta kesempatan, sangat berperan dalam membentuk perilaku.
Bila demikian, apa yang harus kita bagikan di lingkungan kita, agar terjadi suasana “terang”? Karena kita yang sudah dipersatukan dalam Yesus, kalau kita mau berbagi sekecil apa pun, itu sudah menghadirkan “terang” (FX. Mgn).

Senin, 05 Maret 2012

HARI MINGGU PRAPASKAH III (B) Minggu, 11 Maret 2012


MEROMBAK CARA HIDUP YANG LAMA

Kel 20:1-17;
1 Kor:22-25;
Yoh 2:13-25

Sekarang ini pemerintah sedang menggalakkan penggantian KTP lama dengan Elektronik Kartu Tanda Penduduk atau E-KTP. Diharapkan dengan pembaruan ini orang tidak mempunyai KTP lebih dari satu. Sebagai warga masyarakat, kita diharuskan mempunyai Kartu Tanda Penduduk atau KTP sebagai tanda atau identitas diri.
Pada jaman Yesus pun Ia juga diminta tanda yang membuktikan diri-Nya memang diutus Allah untuk mewartakan Kabar Gembira. Kejadian itu, ketika Ia ke Yerusalem melihat para pedagang berjualan di depan Bait Suci, maka Ia lalu mengusir orang-orang itu karena rumah Allah dijadikan tempat berjualan. Bukan sebagai tempat untuk beribadat dan berdoa tetapi malah sebagai tempat berbisnis. Melihat hal itu orang Yahudi tidak terima, lalu menantang Yesus. ”Bukankah semua hewan yang kami persiapkan ini sebagai tanda bahwa kami menepati aturan dan hukum untuk mempersiapkan persembahan dan kurban bakaran kepada Allah. Kalau Engkau berkuasa mengatur kami, tunjukkan kepada kami tanda apa yang bisa Engkau berikan?” kilahnya.
Yang menarik adalah Yesus tidak menunjukkan KTP atau surat tanda bukti diri seperti yang mereka minta. Yesus tidak mempunyai surat kuasa dari Bapa-Nya tetapi tanda yang diberikan Yesus adalah diri-Nya sendiri. Setelah mengusir para pedagang di depan Bait Suci, Ia berkata: ”Rombaklah Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Itulah tanda yang diberikan Yesus bahwa Ia adalah utusan Bapa, yaitu diri-Nya sendiri, yang akan dibunuh dan setelah itu akan dibangkitkan dalam tiga hari. Sungguh sayang sekali orang-orang Yahudi tidak menangkap tanda-tanda itu. Mereka tetap berpikir dan mempertahankan kenisah, dan tidak mengerti yang dimaksudkan Yesus.
Seringkali orang menginginkan sesuatu yang serba instan, serba cepat dan langsung melihat hasilnya di depan mata sebagai bukti. Tidak sabar menunggu proses yang memang memerlukan waktu. Bukankah kalau ingin makan daging ayam tidak harus memecahkan telor tetapi harus dieramkan dulu sampai menetas? Orang tidak sabar menunggu panen tiba lalu mencuri. Orang ingin cepat kaya lalu mengambil jalan pintas dengan korupsi. Bukan kaya yang didapat tetapi malah dibuat malu karena masuk penjara. Bukan berkat yang diperoleh tetapi laknat.
Setelah mengalami dan menyaksikan sendiri dampak dari akal-ukil melanggar hukum, baru disadari bahwa dari perbuatan sesaat dan keinginan untuk memperkaya diri membuat penderitaan yang berkepanjangan. Sama seperti orang-orang Yahudi yang berpikir pendek dan tidak percaya, ”Empatpuluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” Tetapi, yang dimaksudkan Yesus dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri yang bangkit dari antara orang mati setelah tiga hari.
        Semoga kita mampu merombak cara hidup lama dengan mengganti cara hidup baru sesuai kehendak Allah, yaitu bukan karena kehendak kita yang terjadi tetapi karena kehendak-Nya. (FX. Mgn)

Senin, 27 Februari 2012

HARI MINGGU PRAPASKAH II (B) Minggu, 4 Maret 2012


KEMULIAAN MEMERLUKAN PERJUANGAN

Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18;
Rm 8:31b-34;
Mark 9:2-10

     Perasaan takut dan khawatir pernah dialami seseorang ketika tersesat di suatu tempat terpencil atau seseorang yang tertinggal oleh teman-temannya dalam rombongan. Karena asyik menikmati pemandangan yang indah tidak menyadari kalau sudah tertinggal sendirian. Harus naik apa dan lewat mana supaya bisa pulang? Ternyata dibalik kebahagiaan mengintip penderitaan. Pengalaman seperti itu tidak mudah dihadapi bila saya sendiri yang mengalaminya. Bagi seorang beriman pengalaman demikian merupakan tantangan dan perjuangan.
       Para murid Yesus pun mengalami, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes ketika diajak ke gunung yang tinggi. Mereka memperoleh pengalaman yang sungguh mengharukan, menyenangkan dan menyentuh hatinya. Ketika mereka melihat Yesus berubah rupa dengan pakaian yang berkilat-kilat sedang berbicara dengan Elia dan Musa. Tiba-tiba mereka mendengar suara “Inilah Anak-Ku terkasih, dengarkanlah Dia!” Mereka melihat Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Itulah dambaan setiap manusia, bisa melihat Tuhan dalam kemuliaan-Nya yang menjadi gambaran hidup kelak. Namun pada saat yang sama, ketika murid sedang mengalami kegembiraan, Yesus megatakan kepada mereka, ”Jangan beritahukan siapa-siapa, sebelum Anak Manusia bangkit dari orang mati”.  Melihat peristiwa ini para murid merasakan suatu peristiwa yang akan memisahkan dengan Yesus, Guru mereka. Siapa murid atau pengikut yang tidak takut dan was-was dengan apa yang dikatakan Yesus itu?
     Tentu saja kemuliaan itu bukannya tanpa perjuangan. Sengsara Yesus menunjukkan perjuangan, kesabaran, dan kesetiaan-Nya dalam mengikuti kehendak Bapa. Betapa tidak, demi keselamatan manusia, Allah mengorbankan Putra-Nya sendiri dan membangkitkan-Nya Dia dari antara orang mati. Ia menjadi pintu bagi kita untuk masuk ke dalam kemuliaan Allah yang tiada taranya. Diharapkan kita sebagai pengikut-Nya, mampu bertahan bila kita mengalami duka derita.
       Pengalaman lain juga bisa kita simak ketika Allah mencobai Abraham. Allah meminta Abraham untuk mengorbankan anak satu-satunya. Dengan permintaan Allah seperti itu menurut perhitungan manusiawi, janji Allah akan keturunan yang banyak kepada Abraham tampaknya meleset. Namun, itulah tuntutan iman Allah. Percaya kepada Allah berarti meninggalkan perhitungan manusiawi atau cara pikir manusia. Abraham memiliki iman yang berserah penuh kepada Allah. Ia percaya kepada Allah yang pasti memiliki rencana yang tepat dan selalu terlaksana. Karena Abraham telah menaati perintah Allah dengan menyerahkan anak satu-satunya kepada Allah, maka Abraham memperoleh berkat berlimpah-limpah dan memperoleh keturunan yang banyak seperti bintang di langit dan pasir di pantai.
     Semoga pengalaman Abraham yang mengorbankan anak kesayangan satu-satunya kepada Allah dan pengalaman ketiga murid Yesus, kiranya memberikan gambaran kepada kita bahwa janji Allah akan kemuliaan kekal akan terlaksana bagi kita yang percaya kepada Yesus Kristus, Putra terkasih Bapa. (FX. Mgn)