SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Senin, 27 Desember 2010

YESUS SANG BINTANG SEJATI MENAMPAKKAN DIRI KEPADA DUNIA

HR. PENAMPAKAN TUHAN
Minggu, 2 Januari 2011

Yes 60:1-6;
Ef 3:2-31.5-6;           
Mat 2:1-12

Munculnya Bintang di Timur menandakan lahirnya seorang Raja atau Pemimpin baru, yaitu Yesus Kristus yang akan menggembalakan umat manusia. Pertama kali yang melihat bintang itu adalah tiga orang sarjana, orang Majus dari Timur yang bukan bangsa Yahudi.

Kabar tentang kelahiran-Nya membuat dunia heboh mulai dari para gembala sampai dengan para bijak atau orang-orang majus dan penguasa saat itu yaitu Herodes. Baik para gembala maupun orang-orang majus mendapat bimbingan dan tuntunan langsung dari langit dengan "isyarat atau tanda" yang sesuai dengan cara berpikir masing-masing. Tuhan berbicara lewat penampakan malaikat dan bala tentara surgawi kepada para gembala. Ia menampakkan diri lewat isyarat dan pemikiran para ulama yang kaya akan ilmu pengetahuan. Ia pun menampakkan diri kepada mereka lewat orang yang memiliki niat “tidak baik” seperti Herodes.
Dengan hadirnya Bayi mungil sederhana dalam palungan di Betlehem menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah bagi dunia mulai tampak. Allah juga menampakkan kuasa-Nya untuk mengantar setiap orang menyambut serta menikmati keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Tuhan yang mau turun kepada manusia, yang hidup dan berada dalam situasi manusia. Ia berkenan turun ke dunia menampakkan karya keselamatan-Nya, juga membuka jalan bagi siapa saja untuk mengantar kepada keselamatan itu. Keselamatan telah ditawarkan tinggal mereka yang mengetahui mau memahami dan menerima atau menolak keselamatan itu. Sebagian besar umat manusia menerima dan menyambut-Nya, tetapi ada juga orang-orang yang seperti Herodes menolak-Nya.
Para sarjana dari Timur menjadi saksi yang melihat sendiri Bayi Yesus, mereka memahami tanda-tanda dari langit dan mereka memihak Raja yang baru lahir. Mereka diperingatkan dalam mimpi supaya jangan kembali kepada Herodes. Sekarang mereka menyadari bahwa muslihat Herodes yang ingin melacak di mana persisnya tokoh yang dianggapnya bakal menjadi saingannya itu. Para majus pulang membawa kegembiraan yang akan mereka bagikan kepada orang-orang lain.

Bagaimana dengan orang-orang Yahudi, terutama  Herodes? Herodes tidak mau mencari Mesias dan bersembah sujud kepada-Nya, walaupun dia sudah diberitahu akan hadirnya Sang Mesias, oleh para imam kepala dan ahli Taurat. Sebaliknya, justru berusaha untuk melenyapkan-Nya, dengan cara harus membantai banyak bayi  yang tidak berdosa. Herodes kehilangan kepekaan akan cara-cara Tuhan berbicara kepada manusia, malah menganggapnya sebagai ancaman atas kedudukannya! Demikian juga para alim ulama saat itu mereka tidak memahami maknanya kendati mereka mengetahuinya. Hanya Maria sajalah diantara orang-orang itu yang berusaha mengerti dan mendengar kata-kata para gembala. Maria "menyimpan semua perkataan itu dalam hatinya dan memikir-mikirkannya." Bunda Maria bersikap mau memahami misteri yang ada dalam kehidupannya. Orang-orang lain hanya terkagum-kagum dan terkejut saja.

Semoga dalam Pesta penampakan Tuhan hari ini yang merupakan pesta Sang Bintang Sejati, Tuhan Yesus Penyelamat dunia, bukan penyelamat orang katolik saja. Penyelamat bagi semua orang yang menerima kehendak baik-Nya. Marilah kehendak baik-Nya kita tanggapi dengan mewujudkan niat baik kita kepada sesama, agar kebersamaan kita bagaikan bintang-bintang bersinar dan bertebaran di malam kelam, sehingga bisa menjadi bintang atau petunjuk jalan kehidupan sejati yang damai sejahtera. (FX. Mgn)

Senin, 20 Desember 2010

BELAJAR DARI KELUARGA KUDUS

PESTA KELUARGA KUDUS: YESUS, MARIA DAN YUSUF (A)
Hari Minggu 26 Desember 2010

Sir 3:2-6.12-14;
Kol 3:12-21;             
Mat 2:13-15.19-23

        Menyimak Injil hari ini dan ayat-ayat Injil Matius sebelumnya, maka kita akan melihat bahwa betapa banyak kesulitan dan rintangan yang dihadapi Maria dan Yusuf sebagai pasangan muda. Mereka menghadapi banyak persoalan hidup yang membuat keduanya dituntut untuk bersabar dan beriman.
        Yusuf harus menerima kenyataan bahwa Maria tunangannya telah hamil sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Dalam hati ada kecurigaan dan kecemburuan bagi seorang laki-laki, tetapi setelah menerima pesan melalui mimpi ia harus menerima Maria sebagai istrinya karena yang dikandung istrinya adalah dari Allah. Yusuf harus mendampingi dan menjaga istrinya selama mengandung sampai melahirkan dan menjadi bapak asuh bagi Putra-Nya.  
        Bahkan pasangan muda ini setelah melahirkan pun mereka masih mengalami kesulitan dan tantangan karena Bayinya terancam dibunuh oleh penguasa. Maka melalui mimpi lagi mereka harus mengungsi menyelamatkan Bayi dari ancaman pembunuhan. Mereka baru bisa kembali ke negerinya setelah dirasa aman karena Herodes yang mengancam jiwa-Nya telah mati.
        Mereka dalam menjalani hidup sepertinya senantiasa dalam pengungsian. Dari sejak melahirkan Yesus di Betlehem, lalu mengungsi ke Mesir untuk menyelamatkan Bayinya, kemudian kembali ke Galilea dan menetap di Nazaret setelah aman. Kesulitan selalu menghadang mereka, tetapi Yusuf dan Maria tidak mengeluh atau menggerutu apa lagi mempermasalahkan rencana Allah. Mereka menanggapi prakarsa Allah dengan hati terbuka dan bertindak jujur dengan sikap iman. Karena mereka yakin bahwa Tuhan ada bersama mereka. Yesus ada dalam keluarga itu, sehingga  membuat keluarga itu menjadi Keluarga Kudus juga menjadi keluarga yang mampu menghadapi setiap rintangan dan tantangan.
       
          Bagaimana dengan kita?
        Kita pun dalam menjalani hidup tak luput dari permasalahan hidup. Sekarang kita yang hidup dalam zaman modern dan dalam peradapan yang sudah maju, tetapi permasalahan selalu ada saja yang muncul dalam keluarga. Banyak keluarga yang karena mempertahankan ego dan maunya menang sendiri serta merasa benar sendiri dengan tidak mau mengalah satu sama lainnya, kemudian membuat tidak tegur sapa. Karena komunikasinya tidak baik, masalahnya bukan berkurang tetapi menjadi bertambah dan menumpuk. Masalah yang tidak kunjung terpecahkan, malah menjadi lebih parah dan timbul perkelaian dan kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini bukan mustahil, bahkan terjadi dalam keluarga Katolik. Ini sangat memprihatinkan memang. Karena tuntutan hidup yang makin tinggi membuat orang sulit mengontrol dirinya. Keinginan dan kemampuan seringkali tidak sejalan, membuat kisruh dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
       
         Apa solusinya?
        Keluarga Katolik harus kembali pada dasar perkawinan awal; bahwa pasangan harus saling mengasihi, jangan hanya melihat kekurangannya tetapi mau melihat kelebihan masing-masing. Marah dalam keluarga itu pasti ada, tetapi marah untuk menyelesaikan masalah. Keinginan untuk sukses dan maju dalam usaha menyejahterakan keluarga itu menjadi hak dan kewajiban semua pasangan, tetapi juga perlu dibarengi dengan kerja keras dan kekompakan dalam keluarga. Kebahagiaan dan ketentraman dalam keluarga itu menjadi dambaan semua orang, tetapi itu juga perlu pengorbanan satu sama lainnya.
        Marilah kita menimba pengalaman Keluarga Kudus Yusuf dan Maria yang dengan setia menjaga keutuhan keluarga mereka, dengan menyertakan Tuhan dalam keluarganya. Tuhan kita hadirkan dalam keluarga dengan selalu berdoa, mohon kekuatan dari pada-Nya agar tercipta keluarga yang rukun dan guyup. (FX. Mgn)

Minggu, 19 Desember 2010

TERANG KRISTUS MENERANGI HATI SETIAP ORANG

HARI RAYA NATAL
Hari Sabtu, 25 Desember 2010

Yes 52:7-10;
Ibr 1:1-6;         
Yoh 1:1-18 (Yoh 1:1-5, 9-14)

Awal mulanya orang melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Kebiasaan-kebiasaan baik itu dilakukan terus-menerus kemudian menjadi tradisi, yaitu tradisi merayakan Natal setiap tanggal 25 Desember. Lagu-lagu natal terdengar di mana-mana, terasa sekali suasana hari Natal. Tampak di berbagai tempat dipasang pohon natal, goa natal, dan hiasan-hiasan natal, sehingga tampak wajah-wajah gembira dengan penuh suka cita natal. Suasana semarak ini mencerminkan “Terang yang sesungguhnya menerangi setiap orang, sedang datang ke dunia.”

Hal ini berlawanan dengan kenyataan sesungguhnya, bahwa keadaan masyarakat pada umumnya semakin jauh dari sejahtera. Bayangkan, kemiskinan bukannya turun tetapi malah meningkat, sulitnya lapangan kerja semakin memperparah kemiskinan di daerah pedesaan dan perkotaan. Keadaan ini diperberat lagi oleh musibah dan bencana yang sering terjadi, baik karena faktor alam maupun karena dampak dari kelalaian manusia. Sisi-sisi gelap dalam peradaban masyarakat kita dewasa ini membuat kita semakin membutuhkan Terang yang sesungguhnya itu. Siapakah Terang yang sesungguhnya? Terang yang sesungguhnya, yaitu Yesus Kristus yang telah datang ke dunia, yang menjelma menjadi manusia. Ia, membawa pengharapan sejati bagi umat manusia, walaupun banyak orang menolak Terang itu. Di tengah kegelapan, Terang itu menumbuhkan pengharapan bagi mereka yang menjadi korban ketidak-adilan. Bahkan di tengah bencana pun muncul kepedulian yang justru melampaui batas-batas suku, agama, status sosial dan kelompok apa pun.

Kedatangan Yesus Kristus Sang Terang dunia membawa warta keselamatan dan terang hidup, terangkum dalam Bacaan Injil hari ini, di mana sejak awal Putra Allah bersama dengan Bapa dalam menciptakan segala sesuatu. Allah Putra diutus ke dunia untuk mewartakan kabar sukacita Allah. Memberikan kasih Allah kepada manusia, mencintai manusia. Tetapi, Ia ditolak oleh manusia dan bahkan akhirnya dibunuh oleh umat manusia. Namun, Dia lalu dimuliakan oleh Allah dan hidup bersatu dengan Allah. Manusia yang percaya dan menerima Dia akan mengalami terang-Nya dan memperoleh keselamatan, sedangkan mereka yang menolak tidak diselamatkan.
Warta itu mau menjelaskan kepada kita siapakah Yesus itu bagi kita dan bagaimana kita menerimanya agar memperoleh keselamatan. Dari permenungan sabda ini, bagi kita menjadi suatu refleksi yang baik untuk melihat bagaimana kita berusaha menerima Tuhan yang telah berkenan datang menerangi hidup kita. Apakah kita sudah membuka hati kepada Tuhan yang sudah datang dan tinggal dalam hidup kita serta membawa kita kepada Terang sesungguhnya?

Semoga Peristiwa Natal ini membangkitkan harapan dalam hidup dan sekaligus memanggil kita untuk tetap mengupayakan keadilan dan kesejahteraan semua orang. Berbagi dan bertenggang rasa pada mereka yang miskin dengan tidak berfoya-foya dan boros, agar senyum natal mewarnai hati setiap orang. Mengingat yang kita rayakan adalah peristiwa kelahiran Yesus yang miskin dan papa, jauh dari kemewahan serta kemeriahan. SELAMAT NATAL 2010 DAN TAHUN BARU 2011. (FX. Mgn)

Senin, 13 Desember 2010

DIA IMANUEL - ALLAH MENYERTAI KITA

MINGGU ADVEN IV (A)
Hari Minggu 19 Desember 2010

Yes 7:10-14;
Rm 1:1-7;        
Mat 1:18-24

Kedatangan Yesus ke dunia sebagai manusia sungguh dipersiapkan oleh banyak orang. Para nabi telah lama menceritakan dan meramalkan akan kedatangan-Nya. Seperti Yohanes Pembaptis diutus Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Dia dengan ajakannya agar semua orang bertobat, karena kerajaan surga sudah dekat. Demikian juga Maria mau menerima tawaran Malaikat Gabriel agar ia mau mengandung dari Roh Kudus. Maria dipilih Allah untuk menjadi ibu Tuhan dengan mengandung Putra Allah.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah Yosef, ia dipilih Allah untuk menjadi bapa pengasuh-Nya. Yosef, sesungguhnya sangat besar andilnya dalam karya penyelamatan Allah, walau dalam Gereja perannya kurang begitu menonjol. Yosef yang statusnya baru bertunangan dengan Maria, tetapi ia mau menerima Maria yang kedapatan hamil sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Ia mau menerima Maria sebagai istri setelah diperingatkan melalui mimpi bahwa anak dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Demi menjaga nama baik Maria di hadapan banyak orang, ia tidak mau meninggalkan Maria. Waktu itu akan menjadi pertanyaan banyak orang bila ia meninggalkan Maria.

Kesanggupan Yosef untuk menerima Maria sungguh merupakan suatu peran yang sangat mulia. Yosef juga mau memberi nama Yesus, anak-Nya itu sesuai dengan pesan malaikat Tuhan dalam mimpinya. Pesan ini sejalan dengan janji Allah kepada Raja Ahas melalui nabi Yesaya bahwa akan ada seorang perawan yang melahirkan seorang putra, dan harus dinamai Emanuel: Allah Beserta Kita. Bahkan Yosef mau membesarkan Yesus dan mendidiknya serta melatihnya bekerja sampai dewasa. Peran Yosef yang begitu besar dalam karya penyelamatan Allah, menunjukkan bahwa Yosef sungguh mendahulukan kehendak Tuhan daripada kehendaknya sendiri. Dengan mendahulukan kehendak Allah maka akan semakin cepat terwujudnya kerajaan Allah di dunia ini.

Bagaimana dengan kita?
Sikap iman Yosef diharapkan menjadi contoh bagi kita semua sebagai pengikut Yesus. Kesetiaan dan contoh hidup keluarga Yosef sangat pantas untuk diteladani. Demi kebahagiaan dan keutuhan keluarga dan karena cintanya terhadap Maria, ia tetap mempertahankan rumah tangganya. Baginya keutuhan dan kebahagiaan keluarga menjadi prioritas utama. Semoga kita semua bisa meneladani sikap hidup Yosef yang mengedepankan kehendak Tuhan. Sikap hidup yang tidak hanya melihat kekurangan pasangan tetapi melihat kelebihan pasangan. Saling berkorban serta bersikap jujur dan terbuka, merupakan tanda keluarga yang diwarnai cinta kasih. Dengan demikian layak menerima kedatangan Tuhan yang kita nantikan dan rayakan pada Natal nanti. Emanuel, Tuhan beserta kita. (FX. Mgn)

Senin, 06 Desember 2010

ENGKAUKAH YANG DATANG ITU ATAU HARUSKAH KAMI MENANTIKAN ORANG LAIN?

MINGGU ADVEN III (A)
Hari Minggu 12 Desember 2010

Yes 35:1-6a.10;
Yak 5:7-10;              
Mat 11:2-11

Dalam Injil hari ini kita mendengar tokoh Yohanes Pembaptis, yang rela mengenyampingkan kepentingan dirinya untuk menjadi perintis yang menyiapkan jalan bagi kedatangan Yesus, Sang Mesias. Bahkan dia rela ditangkap dan dipenjara oleh Raja Herodes  Antipas. Di dalam penjara Yohanes mendengar ada seorang tokoh yang menurut banyak orang lebih hebat daripadanya. Seperti yang pernah ia peringatkan sebelumnya bahwa akan segera muncul seorang yang lebih berkuasa dari padanya. Dari pembicaraan banyak orang, tokoh itu bernama Yesus.

Untuk meyakinkan dirinya, Yohanes mengutus para muridnya agar menanyakan siapakah sebetulnya Dia? Pertanyaan yang diajukan demikian: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” Para murid Yohanes mengamati apa yang dibuat Yesus ketika ada bersama-Nya selama beberapa hari. Yesus hanya minta untuk melihat apa yang terjadi: orang buta melihat, orang sakit disembuhkan, orang mati dibangkitkan dan kabar gembira diwartakan kepada orang-orang miskin. Berbahagialah orang yang tidak menyangsikan dan tidak menolak-Nya. Dari semua yang dilakukan Yesus itu, mereka melihat kata-kata Nabi Yesaya sedang terlaksana dalam diri Yesus.

Dari sebab itu, mereka yakin bahwa Yesus sungguh Mesias yang diramalkan oleh Nabi Yesaya. Sebab dari semua jawaban Yesus merupakan kutipan-kutipan dari Nabi Yesaya, yaitu: “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Pada waktu itu orang lumpuh akan melompat seperti rusa, dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai; sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara.” Nubuat nabi Yesaya tersebut tidak hanya dikutip dengan fasihnya, tetapi dibuktikan secara nyata di dalam diri Yesus. Maka sekarang terjawablah keragu-raguan Yohanes, bahwa Yesus adalah benar-benar Mesias yang selama ini ditunggu-tunggu kedatangannya setelah mendengar laporan para muridnya yang melihat sendiri apa yang dkatakan dan diperbuat Yesus. Dalam diri Yesus Kristus manusia menemukan nilai-nilai dirinya, dan dari situ manusia dihargai …
Dari sini kita melihat peran Yohanes Pembaptis sebagai pewarta sangat penting untuk mengenalkan Yesus Kristus sebagai pelaksana kehendak Allah. Yohanes Pembaptis telah mengantar para muridnya kepada Yesus. Yesus adalah tujuan dan ia hanyalah sarana. Yohanes dengan rendah hati menyadari bahwa ia tidak penting, yang penting adalah Yesus, Sang Mesias. Yohanes hanya suatu “suara” yang berseru di padang gurun. Ia tidak menuntut apa pun untuk dirinya sendiri. Namun Yesus melihatnya lain, Yohanes bukan sekedar nabi. Yesus melihatnya ia adalah orang penting yang menjadi utusan untuk mendahului kedatangan-Nya. Yohanes berperan menyiapkan jalan bagi Tuhan, dengan memperingatkan orang-orang supaya bertobat dan membersihkan hati mereka agar siap menerima kedatangan Tuhan.

Bagaimana dengan kita?
Kita pun sebagai pengikut-Nya harus siap menyambut kedatangan Tuhan dengan penuh pertobatan. Mau semakin mengecilkan diri kita, agar Tuhan semakin menjadi besar. Kabar Gembira Injil akan mempunyai arti bila orang yang mau bertobat. Dari pertobatan akan terbuka mata jiwa kita bahwa Yesus mencintai kita. Marilah kita mulai memperbaharui diri, agar bisa bergembira menerima kedatangan Yesus Sang Mesias. (FX. Mgn)

Senin, 29 November 2010

KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT, BERTOBATLAH

MINGGU ADVEN II (A)
Hari Minggu 5 Desember 2010


Yes 11:1-10;
Rm 15:4-9;       
Mat 3:1-12

        Di balik karunia Allah yang diterima manusia berupa kelimpahan rejeki, kesehatan dan juga kedudukan yang baik, seringkali melupakan kebersamaannya dengan tidak berbuat adil dan serakah terhadap sesama. Banyak teguran dan peringatan ditujukan kepada manusia berupa tanda-tanda alam yang tidak menentu, dan sentilan-sentilan dari para nabi. Mengingatkan manusia yang sejak awalnya diciptakan semuanya baik, lalu lupa dan cenderung untuk berbuat dosa.  
        Teguran Yohanes Pembaptis agar manusia bertobat sejak ribuan tahun yang lalu sampai sekarang rupanya masih layak kita cermati. Bayangkan, sering kali kita juga masih merasa keturunan Abraham, secara otomatis akan memperoleh keselamatan dari Allah. Seruan dan teguran Yohanes Pembaptis adalah agar kita membuktikan hasil dari  buah pertobatan, bukan sekedar sudah melakukan suatu kegiatan ritual-ibadah, atau kegiatan sekitar altar. Maka teguran Yohanes Pembaptis yang ditujukan kepada orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki, sebetulnya juga ditujukan kepada kita umat manusia sampai sekarang ini. Dalam hal ini kita tidak menghasilkan buah pertobatan karena merasa benar dan tinggi hati serta tidak ada  perasaan menyesal di hadapan Tuhan. Kita tahu siapapun yang tidak menghasilkan buah pertobatan, maka telah “disediakan kapak dan siap untuk menebang akar pohon dan setiap pohon yang tidak mengasilkan buah yang baik, lalu ditebang dan dibuang ke dalam api.” Peringatan Yohanes ini sangat keras mengingat akan segera muncul seorang yang lebih berkuasa dari padanya dan menjadi hakim yang adil. Orang yang dimaksud itu adalah Yesus Kristus.
        Mendengar seruan pertobatan itu, orang-orang banyak berbondong-bondong datang menemui Yohanes Pembaptis minta penjelasan pertobatan apa yang harus dilakukan? Mereka diminta agar mengaku dosa dan bertobat agar memperoleh pengampunan dari Allah, lalu mereka dibaptis dengan air. Sangat menarik, di hadapan orang banyak ia membuat suatu pernyataan: “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” Di tepi sungai Yordan Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai “yang lebih berkuasa dari padaku.” Dalam hal ini Yohanes Pembaptis mengakui di depan umum bahwa dia hanya bisa membaptis mereka dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi hanya Kristuslah yang mampu membaptis umat manusia dengan Roh Kudus dan dengan api. Selain itu hanya Kristus saja yang mampu memerankan sebagai seorang hakim yang ditentukan oleh Allah untuk mengadili umat manusia.
        Kristus sebagai Hakim Allah di akhir zaman digambarkan seperti seorang yang menampi bulir-bulir gandum dengan alat penampi, agar dapat memisahkan dan membuang kulit-kulit/sekam gandum. Lalu bulir-bulir gandum dikumpulkan ke tempatnya, sedang sekam gandum itu akan dibakarnya. Dia ditentukan oleh Allah sebagai penampi untuk  memisahkan “yang benar” dengan “yang tidak benar”, “yang kudus” dengan “yang fasik” sehingga kepada mereka yang benar di hadapan Allah akan dikaruniai keselamatan sedangkan bagi mereka yang jahat dan fasik akan dibinasakan.
        Yang terjadi akan ada pemerintahan Sang Messias di mana ada suatu kehidupan yang penuh damai sejahtera, suatu keadaan yang tanpa permusuhan, digambarkan seperti: “serigala akan tinggal bersama domba, macan tutul akan berbaring di samping kambing, anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama, lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu, anak yang menyusu bermain dekat liang ular tedung”. Dari ungkapan itu pada zaman Mesias akan ditandai dengan adanya keharmonisan hubungan atau relasi segala makhluk. Relasi yang harmonis antar sesama makhluk hidup yang saling meneguhkan dan memperkaya dalam Tuhan sebagai pusat hidup kita.
        Marilah mempersiapkan kedatangan Sang Mesias dengan hati terbuka, dengan mengakui dosa dan kesalahan kita di hadapan Tuhan serta bertobat kepada-Nya agar pantas menyambut Dia sebagai Hakim yang adil. (FX. Mgn)

Minggu, 21 November 2010

BERJAGA-JAGA DAN SIAP SIAGA MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN

MINGGU ADVEN I (A)
Hari Minggu 28 November 2010


Yes 2:1-5;                 
Rm 13:11-14a;          
Mat 24:37-44

      Mulai hari ini kita mengawali masa Adven. Dalam masa Adven ini kita diajak untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang pertama kali di dunia. Kedatangan-Nya akan menghimpun seluruh bangsa dalam kerajaan Allah yang abadi dan damai sejahtera. Kita akan merenungkan dan merayakan kedatangan Sang Sabda menjadi manusia, yakni Yesus Kristus yang lahir di Betlehem. Kedatangan-Nya yang pertama ini dalam kemiskinan dan kehinaan, tetapi kedatangan-Nya yang kedua dalam kemuliaan dan kejayaan. Dan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya masih kita nantikan, yakni pada akhir zaman saat Tuhan Yesus Kristus datang mengadili orang hidup dan mati.
      Maka jangan heran bacaan-bacaan hari ini justru mengarahkan kita pada kedatangan Tuhan yang kedua, yaitu kita diajak untuk mempersiapkan kedatangan-Nya pada akhir zaman. Di mana kita diminta agar berjaga-jaga dan siap sedia, karena kedatangan-Nya tidak bisa kita duga. Rasul Paulus mengarahkan kita dalam menyambut kedatangan Tuhan dengan hidup sopan, tidak hidup boros dengan pesta pora dan mabuk-mabukan, tidak hidup dalam percabulan dan hawa nafsu serta iri hati dan perselisihan.
     
      Bagaimana sikap kita?
      Setiap kali kita memasuki masa Adven, kita selalu diingatkan untuk bersiap sedia dan berjaga-jaga. Namun seringkali kita lengah, jauh dari sikap berjaga-jaga dengan hidup boros. Seperti halnya pada zaman Nuh, sebelum air bah itu orang pada makan dan  minum, kawin dan mengawinkan. Jadi apakah salah ketika kita dalam menantikan kedatangan Tuhan, dengan pesta makan-minum dan kawin-mengawinkan? Makan-minum dan kawin-mengawinkan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang utama dalam kehidupan ini. Tetapi makan-minum juga dapat menjadi suatu hal yang tidak baik ketika dilandasi oleh nafsu rakus dan “mumpung”. Akibatnya tidak mampu mempersiapkan diri meyambut kedatangan Tuhan dengan baik.

      Sikap berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan dengan tidak harus pesta pora dan boros, saya jadi tertarik melihat sikap seorang pastor yang baru ditugaskan menjadi pastor paroki; di mana paroki itu belum mempunyai gereja tetapi setiap tahun mengeluarkan dana ratusan juta rupiah menyewa gedung untuk pesta natal atau paskah. Ia mencari solusi dengan menghubungi pastor paroki lain yang mau membolehkan gerejanya dipakai untuk natalan. Memang resikonya agak jauh untuk bisa menghadiri misa natal tersebut, tetapi ia menghimbau agar umatnya mau memahami kondisi parokinya yang selama ini belum mempunyai gereja. Umat diminta pengorbanannya setahun sekali agar rela meluangkan waktu datang natalan di tempat yang agak jauh itu. Berkorban juga demi Kristus yang telah rela mengorbankan segala-galanya karena cintanya pada umat-Nya.
      Marilah kita menyambut kedatangan Sang Terang dengan hati terbuka dan dengan senjata terang seperti siang hari, dengan mau menerima pendapat orang lain dan mengenyampingkan ego kita agar layak menerima kehadiran Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia. (FX. Mgn)

Senin, 15 November 2010

YESUS ADALAH RAJA SEMESTA ALAM

HR RY KRISTUS RAJA (C)
Hari Minggu 21 November 2010

2 Sam 5:1-3;                     
Kol 1:12-20;             
Luk 23:35-43

      Bayangan kita tentang seorang raja adalah seseorang yang mempunyai kekuasaan yang luar biasa, kaya raya dan hidupnya mewah serta tinggal di istana yang megah dan memiliki pasukan khusus. Namun Yesus sebagai Raja semesta alam tidak mempunyai istana yang megah, hidupnya biasa-biasa saja, sederhana seperti orang pada umumnya.
      Walau pun Ia mempunyai kekuasaan yang luar biasa namun Ia tetap rendah hati. Ia sebagai Raja memerintah bukan dengan kekerasan tetapi dengan cinta kasih. Raja yang menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian. Ia tetap setia mengemban tugasnya dengan tuntas sebagai Raja. Maka karena kesetiaan-Nya pada Bapa, Yesus rela menderita dan mati di kayu salib demi umat manusia. Ia disalib bersama dengan dua orang penjahat. Di atas kayu salib pun Ia masih diolok dan dihina oleh para pemimpin agama dan ahli Taurat, ”Biarlah Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri kalau memang Ia benar-benar Mesias yang dipilih Allah. Orang lain saja Ia selamatkan. Jika Engkau raja orang Yahudi selamatkanlah diri-Mu.” Tetapi Yesus tidak marah kepada mereka, apalagi marah pada Bapa-Nya.
      Kesetiaan pada Bapa-Nya dan menyadari dirinya sebagai Raja, walau pun Ia tergantung di kayu salib masih mau menolong sesama terhukum yaitu seorang penjahat yang memohon kepada-Nya agar diselamatkan bila Ia datang sebagai Raja. Pengakuan imannya bahwa Yesus adalah Raja yang akan datang untuk menghakimi umat manusia meluncur dari lubuk hatinya yang hancur, mengingat dosa dan kesalahan yang pernah dibuat selama hidupnya. Mengakui Yesus adalah Raja pada hakikatnya merupakan suatu pengakuan dan permohonan agar Yesus berkenan mengasihani dan mengampuni dia, sehingga dia memperoleh keselamatan berkat rahmat-Nya.
      Dengan penuh kuasa Yesus berjanji, ”Kamu akan bersama Aku di Firdaus hari ini juga.” Yesus tidak mengatakan besok’ atau lusa’, atau ‘pada akhir zaman’, tetapi ‘hari ini.’ Berada di Firdaus berarti berada dalam keselamatan kekal. Dalam hal ini, Yesus tidak mau menyelamatkan diri sendiri tetapi Ia mau menyelamatkan orang lain yang senasib dengan Dia. Yesus hanya melihat iman si penjahat yang bertobat dan menyerahkan diri kepada-Nya sebagai Raja penyelamatnya. Yesus memberikan harapan kepada si penjahat dan menemani untuk masuk surga. Dia memberikan tempat kebahagiaan kepada penjahat yang bertobat.
     
       Kenapa?
      Yesus sungguh mencintai umat manusia yang berdosa dan yang mau bertobat. Dalam kedalaman cinta itulah kita melihat Dia sebagai seorang Raja alam semesta, raja seluruh umat manusia. Bukan raja yang mencari kesenangan dirinya sendiri, tetapi Raja yang mengusahakan kebahagiaan seluruh umat manusia. Raja yang ikut prihatin dan ikut merasakan penderitaan umatnya yang sakit, dan yang tersisih. Ia ikut berduka bersama para keluarga yang kehilangan anggota keluarganya karena menjadi korban bencana alam. Raja yang peduli dan mau berbuat bagi mereka yang tertimpa berbagai musibah.

        Dalam perayaan Kristus Raja Semesta Alam, kita mengakui Yesus sebagai Raja, tetapi bukan raja yang memegang kekuasaan seperti Daud, walau memang Ia keturunan Daud. Dia Raja yang wilayah kekuasaan dan pemerintahannya tidak dibatasi oleh suatu negara karena Keraja­an­nya bukan dari dunia sini. Ia mau menjadi raja di hati setiap orang. Raja yang memerintah dengan cinta kasih. Raja yang menyelamatkan dunia, membantu yang lemah dan miskin dengan menggandakan roti untuk banyak orang, mengusir roh jahat, menyembuhkan segala penyakit dan menghidupkan orang mati. (FX. Mgn)

Senin, 08 November 2010

MENANTIKAN AKHIR ZAMAN DENGAN SIKAP WASPADA

MG BIASA XXXIII (C)
Hari Minggu, 14 November 2010

Mal 4:1-2;
2 Tes 3:6-13;    
Luk 21:5-19

      Dalam situasi yang sulit dan tekanan hidup di dunia ini, banyak orang membutuhkan jawaban dan pegangan agar mampu menghadapi permasalahan yang sering begitu menekan dan menakutkan. Orang menjadi bingung, lemah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan; lalu ada kecenderungan mencari jalannya sendiri-sendiri. Apa lagi, ketika mendengar banyak orang mulai ramai membicarakan tentang akhir zaman. Mereka tidak semangat bekerja lagi, dan sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk apa bekerja susah payah kalau sebentar lagi semuanya habis. Hal demikian diperingatkan oleh Rasul Paulus, bahwa  orang yang tidak mau bekerja, ya jangan makan.
      Orang lalu pergi ke tempat tertentu. Salah satunya pergi ke suatu tempat pengajaran religius, tetapi seringkali malah terjebak dalam berbagai pandangan yang keliru. Bukan mendapatkan jawaban yang menggembirakan, tetapi malah mendapat gambaran yang menakutkan tentang segera berakhirnya kehidupan di dunia ini. Dengan mencomot beberapa ayat Kitab Suci seolah-olah dengan adanya ketidakstabilan yang dihadapi itu, sebagai tanda kesudahan dunia akan segera datang.

      Memang, seperti pernah langit dan bumi ini diciptakan, demikian juga akan tiba saatnya semuanya itu berakhir. Semuanya akan terjadi, tetapi Yesus mengingatkan agar jangan takut. Semua ini adalah tanda-tanda awal, bukan tanda kesudahannya telah dekat. Ia tidak merahasiakan beberapa tanda sebelum hari kedatangan-Nya yang mulia, bahwa para murid akan menghadapi banyak tantangan. Menjumpai para nabi palsu dan petualang rohani, menghadapi peperangan dan pemberontakan, terjadi gempa bumi dahsyat, kelaparan dan penyakit sampar, akan ada penangkapan dan penganiayaan, pertentangan dan pengkhianatan dari anggota keluarga, serta gejala alam yang penuh misteri.
      Harus diakui bahwa menjalani kehidupan di dunia ini seringkali tidak semua dapat dipahami, apalagi membayangkan tentang akhir zaman. Dalam kehidupan umat kristiani dari zaman Yesus sampai sekarang akan selalu menghadapi penolakan-penolakan, banyak orang yang membenci. Bahkan musuh Kristen ada dalam lingkungan sendiri. Yesus sendiri pun diserahkan oleh seorang rasul-Nya. Tetapi dalam hal ini, Yesus hanya meminta kita untuk tetap bertahan dan bertekun. Dengan bertahan dan bertekun, berarti kita diminta tetap beriman teguh dan tetap setia kepada Tuhan. Kita yakin, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang sedang mengalami penderitaan atau siksaan, karena Tuhan menjamin bahwa tidak sehelai rambut kepala yang kita miliki akan hilang.
      Untuk itu, tidak perlu takut dan cemas menghadapi aneka teror, jebakan, dan gertakan yang mencoba melemahkan iman kita. Bermacam-macam musibah dan bencana alam serta kerusuhan hendaknya kita hadapi dengan tabah dan tenang. Beberapa kejadian yang menguji dan menuntut kesabaran kita, merupakan kesempatan untuk semakin meneguhkan jati diri kita sebagai pengikut-Nya.
      Marilah dalam menantikan kedatangan Tuhan yang mulia, kita percaya akan penyelenggaraan ilahi. Semuanya kita hadapi dengan tenang dan waspada, sambil tetap melakukan pekerjaan sehari-hari sesuai dengan profesi kita masing-masing. Karena Tuhan akan selalu menyertai dan membela kita dengan kata-kata hikmat, sehingga kita tidak dapat ditentang atau dibantah oleh lawan-lawan. (FX. Mgn)

Senin, 01 November 2010

ALLAH ADALAH ALLAH ORANG HIDUP

MG BIASA XXXII (C)
Hari Minggu, 7 November 2010

2 Mak 7:1-2. 9-14;
2 Tes 2:15-3:5;  
Luk 20:27-38 (20:27.34-38)

      Di Jawa dikenal istilah Bahu Laweyan, yaitu perempuan yang memiliki ciri-ciri khusus pembawa sial berupa toh (tompel) sebesar uang logam yang terletak pada bahu kiri. Siapa saja yang menikahi perempuan tersebut bakal mati dengan cara mengenaskan.
      Mitos ini diangkat juga pada zamannya Yesus ketika orang Saduki yang tidak percaya tentang kebangkitan, mempersoalkan tentang hidup sesudah mati. Mereka menanyakan kasus perempuan yang menikah sampai tujuh kali demi memperoleh keturunan. Namun sampai tujuh kali berganti-ganti suami, semuanya mati tanpa meninggalkan keturunan. Sebab, menurut ajaran Musa yang mereka yakini kalau seorang laki-laki menikah kemudian mati tetapi tidak memberikan keturunan, maka saudara laki-lakinya harus menikahi perempuan itu agar ada keturunan yang melanjutkan keluarga itu. Orang-orang Saduki bertanya kepada Yesus, siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya nanti di surga?     
      Yesus menjawab dengan singkat bahwa di surga nanti tidak ada orang kawin dan dikawinkan lagi, kita tidak akan mati lagi, kita hidup sama seperti malaikat, kita adalah anak-anak Allah. Dari jawaban itu setelah kebangkitan orang mati, tidak ada tanda-tanda bahwa kita akan meneruskan hidup duniawi yang seperti sekarang ini, yaitu makan atau minum, pesta atau kawin.
      Yesus menambahkan, “Masalah kebangkitan orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Allah semua orang hidup.” Kita semua adalah anak-anak Abraham, bapa umat beriman. Beriman berarti percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga kita senantiasa berada “di hadapan Tuhan dan hidup” bersatu dan bersama dengan Tuhan.
      Seperti dalam bacaan pertama dari Kitab Makabe diceritakan seorang ibu dengan tujuh anaknya yang lebih senang hidup bersatu dengan Tuhan dalam iman. Walaupun, satu keluarga disiksa oleh raja yang tidak percaya pada Allah, agar mengkhianati hukum agama mereka. Namun ibu dan ketujuh anak itu lebih baik mati daripada harus melanggar perintah agama. Mereka meyakini bahwa kematian demi mempertahankan iman tidak akan sia-sia karena kelak mereka akan dibangkitkan lagi dan memperoleh hidup kekal.
      Mereka memang telah mati di dalam kehidupan di dunia ini, tetapi mereka tetaplah hidup, yaitu di dalam kehidupan kekal. Allah orang yang hidup itu berkenan menganugerahkan kehidupan abadi kepada umat yang berkenan kepada-Nya. Dengan demikian sikap iman kepada Allah yang hidup di dalam Kristus adalah sikap iman yang menyelamatkan. Demikian Yesus memberi tanggapan atas pertanyaan orang-orang Saduki tentang kebangkitan orang mati. Dengan jawaban itu, Yesus mau meyakinkan orang-orang Saduki bahwa kelak ada kebangkitan badan dan kehidupan kekal.
     
      Bagaimana sikap kita?
      Dihadapan Allah, semua orang hidup. Sikap iman kepada Allah yang hidup menentukan keselamatan. Keselamatan merupakan anugerah dari Allah, bukan hasil usaha dari manusia. Kita telah memperoleh anugerah iman. Melalui iman, kita diperkenankan untuk melihat karya Allah yang berkenan menebus kita dari kuasa dosa sehingga kita diselamatkan. Bagi kita, wafat dan kebangkitan Kristus merupakan jawaban atas pertanyaan, bahwa apakah nanti akan ada kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Sebab melalui Kristus, kita ditebus oleh kuasa darah-Nya sehingga kita dibebaskan dari kuasa dosa dan maut. Di dalam Kristus tersedia hidup kekal yang memampukan kita untuk bersatu dengan Allah yang hidup. (FX. Mgn)

Senin, 25 Oktober 2010

ANAK MANUSIA DATANG UNTUK MENCARI DAN MEYELAMATKAN YANG HILANG

MG BIASA XXXI (C)
Hari Minggu, 31 Oktober 2010


Keb 11:22-12:2;
2 Tes 1:11-2:2;  
Luk 19:1-10

      Biasanya Yesus lebih memperhatikan orang-orang yang hatinya remuk redam, yang tersingkir, orang yang menderita sakit,  dan orang-orang miskin; lalu terhadap orang kaya Ia sering mengkritiknya dengan keras. Tetapi kali ini Ia malah mendekati Zakheus kepala pemungut cukai yang terkenal kaya.
      Zakheus sebagai kepala pemungut cukai terkenal kaya raya, tetapi ia dibenci banyak orang. Di mata masyarakat ia dianggap musuh rakyat karena Zakheus memeras rakyat dengan memungut pajak demi kepentingan penjajah Romawi. Sebagai pemungut cukai harta kekayaannya dicurigai hasil korupsi sehingga tidak mustahil ketika Yesus ingin menemui dia, semua orang bersungut-sungut dan berkata, “Ia menumpang di rumah orang berdosa.” 

      Tetapi jangan heran, Yesus tahu apa yang ada dalam hati Zakheus. Dalam perjalanannya melintasi kota Yerikho Ia melihat seorang yang bertengger di atas pohon, ternyata orang itu adalah Zakheus. Zakheus yang berbadan kecil terhalang banyak orang untuk bisa melihat Yesus, maka berlarilah dia mendahului mereka kemudian naik di atas pohon ara agar bisa melihat dengan jelas seperti apakah Yesus itu? Tampaknya Zakheus sudah cukup lama mendengar khabar tentang siapakah Yesus. Mungkin ia pernah mendengar apa saja yang telah dilakukan Yesus kepada banyak orang dengan mukjizat-mukjizat-Nya. Itulah sebabnya ia ingin melihat Yesus dari dekat.     
      Ternyata benar, usahanya berhasil menarik perhatian Yesus. Maka berkatalah Yesus, “Hai Zakheus, turunlah. Hari ini Aku akan menginap di rumahmu!” Tindakan Yesus singgah di rumah Zakheus membuat orang Yahudi bersungut-sungut. Kenapa Ia mau menginap di rumah pendosa dan bukankah Zakheus itu sebagai musuh rakyat. Menanggapi hal ini Yesus tidak marah dan tidak langsung mengkritik mereka, karena yang Ia lakukan ini sebagai sapaan kasih pada orang yang tersentuh hatinya dan bertobat.
      Zakheus, merasa dirinya adalah orang berdosa memperoleh sentuhan yang penuh kasih dari Yesus. Zakheus tidak menyangka sama sekali kalau bisa bertemu secara pribadi dengan Yesus. Ia tidak menyangka bahwa Yesus sendiri mau menawarkan diri untuk datang ke rumahnya. Perasaan kaget dan tercengang membuat sukacita baginya. Sampai Zakheus mengungkapkan keinginannya untuk bertobat dan memperbaiki hidupnya, katanya, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”
      Hatinya yang tadinya hanya terbuka sedikit, sekarang terbuka secara penuh setelah bertemu dengan Yesus. Kesanggupannya berbuat baik kepada orang miskin dan yang dirugikan sungguh mencerminkan kemurahan hati. Ia tidak hanya mengganti rugi, tetapi merelakan yang menjadi miliknya diberikan kepada orang miskin. Melihat hal itu Yesus berkata, “Orang demikian pantas menjadi anak Abraham. Hari ini terjadi keselamatan.” Pertemuan pribadi dengan Yesus menjadikan Zakheus dan keluarganya memperoleh keselamatan.
      Rupanya Zakheus menyadari bahwa Tuhan tidak mau menghukum tetapi mau menyelamatkan. Tuhan tidak melihat kesalahan-kesalahan masa lalu tetapi Tuhan melihat kesungguhan hati sesorang untuk bertobat. Seperti dalam bacaan pertama hari ini Tuhan menyayangi semua ciptaan-Nya. Tuhan tidak langsung menghukum berat bagi pendosa tetapi Tuhan menghukum berdikit-dikit sebagai peringatan agar orang memperbaiki diri. 
      Semoga pertemuan Zakheus dengan Yesus menyadarkan kita bahwa Tuhan sungguh mahakasih dengan mencintai semua orang berdosa yang mau bertobat. Dan semoga membuat sikap kita untuk berubah, dengan tidak bersungut-sungut ketika Tuhan memberikan kesempatan dan tawaran kasih-Nya kepada orang yang dianggap tidak pantas. Karena Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. (FX. Mgn)

Senin, 18 Oktober 2010

BERDOA DENGAN RENDAH HATI DAN JUJUR

MG BIASA XXX (C)
Hari Minggu, 24 Oktober 2010

Sir 35:12-14. 16-18;
2 Tim 4:6-8. 16-18;    
Luk 18:9-14

      Seorang pemasar yang cukup pengalaman melamar pekerjaan kepada kepada bos pengembang perumahan yang cukup besar. Si pemasar meyakinkan pada bos bahwa ia sanggup menjual seluruh rumah yang dibangun dalam tempo tiga bulan. Ia juga menunjukkan kesalehannya bahwa seluruh rencana dan usahanya dibawa dalam doa, maka ia sangat yakin dan mantap bahwa Tuhan selalu memberkatinya. Disamping itu ia punya modal dan pengaruh, ia punya pengalaman menjual serta banyak relasinya. Tanpa melihat kualitas rumah dan fasilitas yang ada ia akan memasarkan dengan cara melebih-lebihkan kualitas jualannya kepada pembeli dengan tidak mengatakan kekurangannya. Yang penting terjual terima uang, urusan selesai. Resiko selanjutnya adalah urusan pembeli. 
      Pelamar kedua yang tidak punya pengalaman melamar juga tetapi ia tidak punya modal. Modalnya hanya sebuah proposal dan kejujuran serta niat yang tulus untuk membantu memasarkan produk. Dalam proposalnya pelamar yang belum berpengalaman ini menjelaskan secara terperinci semua kelebihan dan kekurangan produk itu, serta solusinya agar pembeli puas. Melihat ketulusan pelamar yang kedua ini, bos menerima lamaran tersebut. Bos itu tidak menerima pelamar yang pertama karena kesombongannya dan ketidakjujurannya.

      Injil hari ini, kita mendengar sebuah perumpamaan yang disampaikan Yesus mengenai doa orang Farisi dan pemungut cukai. Mereka berdoa di Bait Allah. Orang Farisi berdoa begitu panjang dan penuh syukur karena ia merasa tidak tergolong para pendosa. Dalam doanya ia mengatakan, bahwa belum pernah menipu atau pun mencuri apalagi merampok. Ia juga tidak berzina dan ia tidak pernah lupa beramal dan berpuasa. Si Farisi di depan Tuhan membenarkan dirinya, bahwa ia jauh lebih baik dari orang lain. Si Farisi membandingkan dirinya dengan si pemungut cukai yang saat itu berdiri di belakangnya. Sedangkan si pemungut cukai berdiri jauh-jauh dan hanya berdoa singkat: "Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini." Dengan rendah hati ia mengakui kesalahannya dan mohon ampun di depan Tuhan. Yesus memuji pemungut cukai tersebut karena doanya diucapkan dengan penuh kerendahan hati. Doanya singkat tetapi diucapkan dengan penuh perasaan dan keyakinan bahwa Tuhan itu mahakasih dan mahapengampun. Si pemungut cukai sebagai orang yang dibenarkan Allah, sedangkan si Farisi tidak, karena si Farisi berbohong di hadapan Tuhan dan menyombongkan diri.
      Si Farisi tidak dibenarkan karena dalam doanya ia hanya membenarkan dirinya sendiri dan selalu membandingkan kehebatannya dengan orang lain untuk menunjukkan bahwa dirinya hebat dan baik. Dalam doanya si Farisi tidak pernah bicara tentang Tuhan atau berserah kepada Tuhan, tetapi ia berbicara tentang dirinya sendiri. Ia memoles dirinya agar nampak hebat dan cantik di depan Tuhan. Sedangkan si pemungut cukai berdoa dengan hati yang jujur. Ia membuka hatinya dengan rendah hati kepada Tuhan. Dia mengatakan secara benar siapakah dirinya di hadapan Tuhan. Si pemungut cukai mengakui Tuhan sebagai yang berbelas kasih dan mencintainya. Dia sungguh membutuhkan belas kasih dan pengampunan Tuhan. Si pemungut cukai menggantungkan diri dan bersandar kepada Tuhan.

      Bagaimana dengan kita selama ini?
      Sadar atau tidak sadar, kita berada di tengah zaman yang mengagungkan kesuksesan, kelimpahan kekayaan, dan kenikmatan serta kecantikan. Kita seringkali cenderung melihat orang lain lebih rendah bila ukurannya tidak sesuai dengan perkembangan zaman ini. Kita bisa menjadi seperti orang Farisi yang berdoa dengan meninggikan diri. Sejatinya, kita sadar dan tahu bahwa Allah melihat hati kita. Di hadapan Allah kita semua adalah orang-orang yang membutuhkan belas kasih dan pengampunan. Allah tidak membutuhkan kecantikan dan kehebatan kita tetapi Allah memilih kedalaman dan keterbukaan hati kita. Allah tidak mau mendengarkan doa-doa yang panjang dengan kalimat yang indah-indah tetapi tidak sesuai dengan kenyataan pada diri kita. Allah menghendaki doa kita yang jujur dan tulus serta rendah hati. Dengan merendahkan hati di hadapan Allah, kita bisa belajar untuk melihat sesama hidup ini sebagaimana Allah memandang sesama kita. Karena, orang yang meninggikan diri akan direndahkan; sedangkan orang yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (FX. Mgn) 

Senin, 11 Oktober 2010

BERDOA TANPA JEMU

MG BIASA XXIX (C)
Hari Minggu, 17 Oktober 2010

Kel 17:8-13;
2 Tim 3:14.4:2;  
Luk 18:1-8
    Pada saat tertentu kita pernah kehilangan harapan karena sebagai orang beriman sudah berdoa bertahun-tahun untuk suatu permohonan yang sama, tetapi tak kunjung ada tanda-tanda Tuhan akan mengabulkan. Yang dihadapi adalah rintangan demi rintangan yang semakin banyak. Ada kesan Tuhan mengulur-ulur waktu dan tidak mendengarkan doa kita. Perasaan hati menjadi kecewa dan membuat mogok berdoa.
    Tetapi, Injil hari ini menjelaskan bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang akan membenarkan kepada kita yang berdoa terus-menerus siang dan malam kepada-Nya. Tuhan akan mendengarkan doa-doa kita yang dilakukan tanpa henti dengan penuh iman. Seorang hakim yang kejam saja akan mengabulkan permohonan seorang janda yang minta terus-menerus, apalagi Allah yang baik hati. Ia akan mengabulkan doa orang-orang yang berseru kepada-Nya dengan keyakinan doanya akan dikabulkan.

    Kita sebagai orang beriman dipanggil untuk berdoa, karena doa merupakan nafas dari kehidupan kita. Itu sebabnya tanpa berdoa, kehidupan iman atau spiritualitas hidup kita akan mati. Doa menjadi bagian yang sangat utama dan menjadi ciri yang nyata bagi kita yang percaya kepada Allah. Maka tidak mengherankan jikalau kesalehan seseorang sering diukur oleh seberapa banyak dia berdoa. Semakin banyak seseorang berdoa, dia dipandang lebih dekat kepada Tuhan. Apabila seseorang telah dekat dengan Tuhan, maka segala hal yang dipanjatkan atau dimohonkan dalam doa akan dikabulkan. Dalam hal ini doa merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus sebagai sarana yang tepat untuk menyampaikan berbagai permohonan kepada-Nya.
    
    Lalu apa yang terjadi?
    Kita sering berdoa. Tidak saja berdoa sendiri, tetapi juga bersama-sama dalam ibadat. Bahkan kelihatan agak memaksa Tuhan agar permohonan-permohonan kita dikabulkan. Kadang-kadang setelah bertanya dalam-dalam kita menemukan bahwa ada beberapa doa yang memang tidak perlu dikabulkan, karena sarat dengan kepentingan pribadi. Kita jadi bertanya dalam diri sendiri, apakah doa kita sungguh baik demi kemajuan dan kebahagiaan hidup kita? Apakah kita sudah berdoa dengan penuh iman dan tekun, tidak jemu-jemu serta dengan hati terbuka? Kita sering berdoa bukan karena mengasihi dan mempermuliakan Allah, tetapi berdoa agar keinginan atau harapannya terpenuhi. Tepatnya mendekatkan diri kepada Allah bukan karena Dia yang memiliki kedaulatan, tetapi Allah diimani sebagai obyek untuk melakukan apa yang kita inginkan. Jika demikian, untuk apa Tuhan Yesus mengajar agar kita harus berdoa tiada jemu-jemunya?
    Berdoa dengan tiada jemu seharusnya mengungkapkan kenyataan bahwa hubungan yang tiada jemu dengan Allah. Tepatnya kita dipanggil untuk mengasihi dan mempermuliakan Allah tiada jemu, walaupun tidak setiap permohonannya dikabulkan oleh Allah. Namun kita sering tidak sabar, dengan berkeinginan dan berharap agar semuanya segera terwujud. Kita mestinya menyadari bahwa kita dipanggil oleh Tuhan Yesus untuk berdoa dengan iman dan tekun.
    Marilah kita berdoa dengan tekun dan bertahan dengan tidak pernah menyerah dalam doa. Berkat Tuhan disediakan bagi setiap orang yang berdoa tiada jemu dengan penuh iman. Pada saatnya Tuhan akan mengabulkan permohonan kita menurut pandangan-Nya. Bahkan malahan akan menerima lebih dari yang kita mohon. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti berdoa dan kecewa bila permohonan kita belum dikabulkan. (FX. Mgn)

Senin, 04 Oktober 2010

BERTERIMA KASIH DAN BERSYUKUR


MG BIASA XXVIII (C)
Hari Minggu, 10 Oktober 2010


2 Raj 5:14-17;
2 Tim 2:8-13;    
Luk 17:11-19

      Saya mempunyai seorang teman, mukanya selalu murung dan tidak pernah gembira. Nampaknya tidak pernah bersyukur atas berkat dan karunia yang selama ini ia terima. Yang dibuat ukuran adalah orang lain yang sukses, punya ini punya itu. Adanya hanya kurang terus. “Saya ini apa, saya kan orang yang tidak mampu. Tidak mampu seperti mereka yang apa-apa ada,” keluhnya. Tidak menyadari bahwa dibanding dengan tetangga sekitarnya, ia itu lebih baik hidupnya. Kesehatannya baik. Anak sudah menikah semua. Rumah dan perabotan komplit. Kendaraan ada. Kenapa merasa kurang terus, tidak berterima kasih dan bersyukur? Karena ia berpendirian sukses ataupun kegembiraan sudah direncanakan dan diperjuangkan sendiri, bukan dari Tuhan. Kalaupun itu berasal dari Tuhan, toh Tuhan sudah tahu. “Bukankah Tuhan tidak membutuhkan syukurku”

      Injil hari ini juga berbicara soal berterimakasih dan bersyukur. Dikisahkan ada sepuluh orang yang sakit kusta berseru di kejauhan memohon belas kasih Yesus untuk disembuhkan. Untuk menguji iman kesepuluh orang kusta itu apakah benar-benar percaya akan sabda-Nya, maka Yesus menyuruh mereka menghadap para imam. Terdorong oleh keinginan untuk sembuh dari penyakitnya maka mereka mematuhi perintah-Nya. Ternyata di tengah perjalanan mereka mengalami kesembuhan.
      Sebagaimana layaknya orang yang disembuhkan, mestinya kembali dulu kepada Yesus untuk berterimakasih sebelum mereka menunjukkan diri kepada imam-imam. Tetapi hanya satu orang yang datang kembali kepada Yesus untuk berterima kasih dan memuliakan Allah. Itu pun orang asing yaitu orang Samaria yang dipandang kafir oleh orang Yahudi. Sedangkan yang sembilan lain yaitu orang Yahudi, pergi begitu saja menemui imam-imam sesuai dengan perintah Yesus agar memperlihatkan diri bahwa mereka sudah tahir.
      Bukankah penyembuhan sakit kusta merupakan karunia yang sangat besar, merupakan pemberian yang sangat besar dari Tuhan? Rupanya, mereka berpandangan tempat memuliakan Allah adalah Bait Suci di Yerusalem. Kesembilan orang Yahudi itu tidak menyadari bahwa Yesus adalah sebagai pribadi yang termasuk lingkungan ilahi. Berbeda dengan seorang Samaria yang kembali dan berterimakasih kepada Yesus. Ia rebah di tanah dengan kepala tertunduk memberi hormat sedalam-dalamya dan mengucap syukur. Ia tersungkur di hadapan Yesus sebagai tanda memuliakan Allah. Ia ingin bertemu kembali kepada Yesus secara pribadi. Sebab Bait Allah adalah Yesus sendiri. Dengan kembali kepada Yesus, orang Samaria mengimani bahwa Yesus adalah imam juga. Memang dari awal orang Samaria dianggap kafir. Namun kenyataannya justru orang yang dianggap “orang asing” atau kafir itulah yang mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat hidupnya. Oleh karena itu bagi “orang asing” semacam itu pulalah tersedia keselamatan.
      Melihat iman orang Samaria itu, Yesus menegur: “Berdirilah dan pergilah.” Maksudnya berdirilah untuk berjuang dalam hidup ini, dan jangan putus asa. “Sebab imanmu menyelamatkan engkau.” Ia bukan hanya memperoleh kesembuhan tetapi juga memperoleh keselamatan. Bukan seperti orang Yahudi yang merasa bahwa keselamatan mereka sudah terjamin. Merasa keselamatan ada di tangan mereka sendiri. Pahahal sejatinya tidak akan selamat karena berbuat sesuatu, tetapi karena membiarkan Allah berbuat sesuatu dalam dirinya. Itulah iman sejati, yaitu menyerahkan diri secara total kepada Allah dan kepada Yesus Sang Juruslamat.

      Bagaimana dengan kita?
      Seringkali kita juga susah untuk berterimakasih dan bersyukur. Seolah-olah semua keberhasilan kita terjadi begitu saja dengan kemampuan sendiri. Tidak menyadari bahwa kita hidup dan berkembang karena ada dukungan dan bantuan orang lain. Kita sering kali melupakan kebaikan-kebaikan orang lain dan tidak berterimakasih serta bersyukur kepada Tuhan.
        Marilah berterimakasih dan bersyukur kepada Tuhan karena selama ini telah dilayani dan dibimbing oleh para gembala kita, menuju kepada Allah dalam Yesus Kristus. Berterimakasih kepada pemimpin Negara, yang berjuang untuk rakyatnya agar makmur dan sejahtera. Demikian juga bagi yang menderita karena sakit bisa sembuh karena memperoleh pengobatan yang baik, yang kurang beruntung bisa mandiri dan berkembang berkat dukungan serta bantuan sesama. Dengan saling melayani satu sama lainnya, semoga kita termasuk dalam barisan orang Samaria yang tahu berterimakasih dan bersyukur. (FX. Mgn)