SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Senin, 29 November 2010

KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT, BERTOBATLAH

MINGGU ADVEN II (A)
Hari Minggu 5 Desember 2010


Yes 11:1-10;
Rm 15:4-9;       
Mat 3:1-12

        Di balik karunia Allah yang diterima manusia berupa kelimpahan rejeki, kesehatan dan juga kedudukan yang baik, seringkali melupakan kebersamaannya dengan tidak berbuat adil dan serakah terhadap sesama. Banyak teguran dan peringatan ditujukan kepada manusia berupa tanda-tanda alam yang tidak menentu, dan sentilan-sentilan dari para nabi. Mengingatkan manusia yang sejak awalnya diciptakan semuanya baik, lalu lupa dan cenderung untuk berbuat dosa.  
        Teguran Yohanes Pembaptis agar manusia bertobat sejak ribuan tahun yang lalu sampai sekarang rupanya masih layak kita cermati. Bayangkan, sering kali kita juga masih merasa keturunan Abraham, secara otomatis akan memperoleh keselamatan dari Allah. Seruan dan teguran Yohanes Pembaptis adalah agar kita membuktikan hasil dari  buah pertobatan, bukan sekedar sudah melakukan suatu kegiatan ritual-ibadah, atau kegiatan sekitar altar. Maka teguran Yohanes Pembaptis yang ditujukan kepada orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki, sebetulnya juga ditujukan kepada kita umat manusia sampai sekarang ini. Dalam hal ini kita tidak menghasilkan buah pertobatan karena merasa benar dan tinggi hati serta tidak ada  perasaan menyesal di hadapan Tuhan. Kita tahu siapapun yang tidak menghasilkan buah pertobatan, maka telah “disediakan kapak dan siap untuk menebang akar pohon dan setiap pohon yang tidak mengasilkan buah yang baik, lalu ditebang dan dibuang ke dalam api.” Peringatan Yohanes ini sangat keras mengingat akan segera muncul seorang yang lebih berkuasa dari padanya dan menjadi hakim yang adil. Orang yang dimaksud itu adalah Yesus Kristus.
        Mendengar seruan pertobatan itu, orang-orang banyak berbondong-bondong datang menemui Yohanes Pembaptis minta penjelasan pertobatan apa yang harus dilakukan? Mereka diminta agar mengaku dosa dan bertobat agar memperoleh pengampunan dari Allah, lalu mereka dibaptis dengan air. Sangat menarik, di hadapan orang banyak ia membuat suatu pernyataan: “Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” Di tepi sungai Yordan Yohanes Pembaptis menyebut Yesus sebagai “yang lebih berkuasa dari padaku.” Dalam hal ini Yohanes Pembaptis mengakui di depan umum bahwa dia hanya bisa membaptis mereka dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi hanya Kristuslah yang mampu membaptis umat manusia dengan Roh Kudus dan dengan api. Selain itu hanya Kristus saja yang mampu memerankan sebagai seorang hakim yang ditentukan oleh Allah untuk mengadili umat manusia.
        Kristus sebagai Hakim Allah di akhir zaman digambarkan seperti seorang yang menampi bulir-bulir gandum dengan alat penampi, agar dapat memisahkan dan membuang kulit-kulit/sekam gandum. Lalu bulir-bulir gandum dikumpulkan ke tempatnya, sedang sekam gandum itu akan dibakarnya. Dia ditentukan oleh Allah sebagai penampi untuk  memisahkan “yang benar” dengan “yang tidak benar”, “yang kudus” dengan “yang fasik” sehingga kepada mereka yang benar di hadapan Allah akan dikaruniai keselamatan sedangkan bagi mereka yang jahat dan fasik akan dibinasakan.
        Yang terjadi akan ada pemerintahan Sang Messias di mana ada suatu kehidupan yang penuh damai sejahtera, suatu keadaan yang tanpa permusuhan, digambarkan seperti: “serigala akan tinggal bersama domba, macan tutul akan berbaring di samping kambing, anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama, lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu, anak yang menyusu bermain dekat liang ular tedung”. Dari ungkapan itu pada zaman Mesias akan ditandai dengan adanya keharmonisan hubungan atau relasi segala makhluk. Relasi yang harmonis antar sesama makhluk hidup yang saling meneguhkan dan memperkaya dalam Tuhan sebagai pusat hidup kita.
        Marilah mempersiapkan kedatangan Sang Mesias dengan hati terbuka, dengan mengakui dosa dan kesalahan kita di hadapan Tuhan serta bertobat kepada-Nya agar pantas menyambut Dia sebagai Hakim yang adil. (FX. Mgn)

Minggu, 21 November 2010

BERJAGA-JAGA DAN SIAP SIAGA MENANTIKAN KEDATANGAN TUHAN

MINGGU ADVEN I (A)
Hari Minggu 28 November 2010


Yes 2:1-5;                 
Rm 13:11-14a;          
Mat 24:37-44

      Mulai hari ini kita mengawali masa Adven. Dalam masa Adven ini kita diajak untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhan yang pertama kali di dunia. Kedatangan-Nya akan menghimpun seluruh bangsa dalam kerajaan Allah yang abadi dan damai sejahtera. Kita akan merenungkan dan merayakan kedatangan Sang Sabda menjadi manusia, yakni Yesus Kristus yang lahir di Betlehem. Kedatangan-Nya yang pertama ini dalam kemiskinan dan kehinaan, tetapi kedatangan-Nya yang kedua dalam kemuliaan dan kejayaan. Dan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya masih kita nantikan, yakni pada akhir zaman saat Tuhan Yesus Kristus datang mengadili orang hidup dan mati.
      Maka jangan heran bacaan-bacaan hari ini justru mengarahkan kita pada kedatangan Tuhan yang kedua, yaitu kita diajak untuk mempersiapkan kedatangan-Nya pada akhir zaman. Di mana kita diminta agar berjaga-jaga dan siap sedia, karena kedatangan-Nya tidak bisa kita duga. Rasul Paulus mengarahkan kita dalam menyambut kedatangan Tuhan dengan hidup sopan, tidak hidup boros dengan pesta pora dan mabuk-mabukan, tidak hidup dalam percabulan dan hawa nafsu serta iri hati dan perselisihan.
     
      Bagaimana sikap kita?
      Setiap kali kita memasuki masa Adven, kita selalu diingatkan untuk bersiap sedia dan berjaga-jaga. Namun seringkali kita lengah, jauh dari sikap berjaga-jaga dengan hidup boros. Seperti halnya pada zaman Nuh, sebelum air bah itu orang pada makan dan  minum, kawin dan mengawinkan. Jadi apakah salah ketika kita dalam menantikan kedatangan Tuhan, dengan pesta makan-minum dan kawin-mengawinkan? Makan-minum dan kawin-mengawinkan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang utama dalam kehidupan ini. Tetapi makan-minum juga dapat menjadi suatu hal yang tidak baik ketika dilandasi oleh nafsu rakus dan “mumpung”. Akibatnya tidak mampu mempersiapkan diri meyambut kedatangan Tuhan dengan baik.

      Sikap berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan dengan tidak harus pesta pora dan boros, saya jadi tertarik melihat sikap seorang pastor yang baru ditugaskan menjadi pastor paroki; di mana paroki itu belum mempunyai gereja tetapi setiap tahun mengeluarkan dana ratusan juta rupiah menyewa gedung untuk pesta natal atau paskah. Ia mencari solusi dengan menghubungi pastor paroki lain yang mau membolehkan gerejanya dipakai untuk natalan. Memang resikonya agak jauh untuk bisa menghadiri misa natal tersebut, tetapi ia menghimbau agar umatnya mau memahami kondisi parokinya yang selama ini belum mempunyai gereja. Umat diminta pengorbanannya setahun sekali agar rela meluangkan waktu datang natalan di tempat yang agak jauh itu. Berkorban juga demi Kristus yang telah rela mengorbankan segala-galanya karena cintanya pada umat-Nya.
      Marilah kita menyambut kedatangan Sang Terang dengan hati terbuka dan dengan senjata terang seperti siang hari, dengan mau menerima pendapat orang lain dan mengenyampingkan ego kita agar layak menerima kehadiran Terang yang sesungguhnya sedang datang ke dalam dunia. (FX. Mgn)

Senin, 15 November 2010

YESUS ADALAH RAJA SEMESTA ALAM

HR RY KRISTUS RAJA (C)
Hari Minggu 21 November 2010

2 Sam 5:1-3;                     
Kol 1:12-20;             
Luk 23:35-43

      Bayangan kita tentang seorang raja adalah seseorang yang mempunyai kekuasaan yang luar biasa, kaya raya dan hidupnya mewah serta tinggal di istana yang megah dan memiliki pasukan khusus. Namun Yesus sebagai Raja semesta alam tidak mempunyai istana yang megah, hidupnya biasa-biasa saja, sederhana seperti orang pada umumnya.
      Walau pun Ia mempunyai kekuasaan yang luar biasa namun Ia tetap rendah hati. Ia sebagai Raja memerintah bukan dengan kekerasan tetapi dengan cinta kasih. Raja yang menyelamatkan umat manusia dari dosa dan kematian. Ia tetap setia mengemban tugasnya dengan tuntas sebagai Raja. Maka karena kesetiaan-Nya pada Bapa, Yesus rela menderita dan mati di kayu salib demi umat manusia. Ia disalib bersama dengan dua orang penjahat. Di atas kayu salib pun Ia masih diolok dan dihina oleh para pemimpin agama dan ahli Taurat, ”Biarlah Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri kalau memang Ia benar-benar Mesias yang dipilih Allah. Orang lain saja Ia selamatkan. Jika Engkau raja orang Yahudi selamatkanlah diri-Mu.” Tetapi Yesus tidak marah kepada mereka, apalagi marah pada Bapa-Nya.
      Kesetiaan pada Bapa-Nya dan menyadari dirinya sebagai Raja, walau pun Ia tergantung di kayu salib masih mau menolong sesama terhukum yaitu seorang penjahat yang memohon kepada-Nya agar diselamatkan bila Ia datang sebagai Raja. Pengakuan imannya bahwa Yesus adalah Raja yang akan datang untuk menghakimi umat manusia meluncur dari lubuk hatinya yang hancur, mengingat dosa dan kesalahan yang pernah dibuat selama hidupnya. Mengakui Yesus adalah Raja pada hakikatnya merupakan suatu pengakuan dan permohonan agar Yesus berkenan mengasihani dan mengampuni dia, sehingga dia memperoleh keselamatan berkat rahmat-Nya.
      Dengan penuh kuasa Yesus berjanji, ”Kamu akan bersama Aku di Firdaus hari ini juga.” Yesus tidak mengatakan besok’ atau lusa’, atau ‘pada akhir zaman’, tetapi ‘hari ini.’ Berada di Firdaus berarti berada dalam keselamatan kekal. Dalam hal ini, Yesus tidak mau menyelamatkan diri sendiri tetapi Ia mau menyelamatkan orang lain yang senasib dengan Dia. Yesus hanya melihat iman si penjahat yang bertobat dan menyerahkan diri kepada-Nya sebagai Raja penyelamatnya. Yesus memberikan harapan kepada si penjahat dan menemani untuk masuk surga. Dia memberikan tempat kebahagiaan kepada penjahat yang bertobat.
     
       Kenapa?
      Yesus sungguh mencintai umat manusia yang berdosa dan yang mau bertobat. Dalam kedalaman cinta itulah kita melihat Dia sebagai seorang Raja alam semesta, raja seluruh umat manusia. Bukan raja yang mencari kesenangan dirinya sendiri, tetapi Raja yang mengusahakan kebahagiaan seluruh umat manusia. Raja yang ikut prihatin dan ikut merasakan penderitaan umatnya yang sakit, dan yang tersisih. Ia ikut berduka bersama para keluarga yang kehilangan anggota keluarganya karena menjadi korban bencana alam. Raja yang peduli dan mau berbuat bagi mereka yang tertimpa berbagai musibah.

        Dalam perayaan Kristus Raja Semesta Alam, kita mengakui Yesus sebagai Raja, tetapi bukan raja yang memegang kekuasaan seperti Daud, walau memang Ia keturunan Daud. Dia Raja yang wilayah kekuasaan dan pemerintahannya tidak dibatasi oleh suatu negara karena Keraja­an­nya bukan dari dunia sini. Ia mau menjadi raja di hati setiap orang. Raja yang memerintah dengan cinta kasih. Raja yang menyelamatkan dunia, membantu yang lemah dan miskin dengan menggandakan roti untuk banyak orang, mengusir roh jahat, menyembuhkan segala penyakit dan menghidupkan orang mati. (FX. Mgn)

Senin, 08 November 2010

MENANTIKAN AKHIR ZAMAN DENGAN SIKAP WASPADA

MG BIASA XXXIII (C)
Hari Minggu, 14 November 2010

Mal 4:1-2;
2 Tes 3:6-13;    
Luk 21:5-19

      Dalam situasi yang sulit dan tekanan hidup di dunia ini, banyak orang membutuhkan jawaban dan pegangan agar mampu menghadapi permasalahan yang sering begitu menekan dan menakutkan. Orang menjadi bingung, lemah dan tidak tahu apa yang harus dilakukan; lalu ada kecenderungan mencari jalannya sendiri-sendiri. Apa lagi, ketika mendengar banyak orang mulai ramai membicarakan tentang akhir zaman. Mereka tidak semangat bekerja lagi, dan sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk apa bekerja susah payah kalau sebentar lagi semuanya habis. Hal demikian diperingatkan oleh Rasul Paulus, bahwa  orang yang tidak mau bekerja, ya jangan makan.
      Orang lalu pergi ke tempat tertentu. Salah satunya pergi ke suatu tempat pengajaran religius, tetapi seringkali malah terjebak dalam berbagai pandangan yang keliru. Bukan mendapatkan jawaban yang menggembirakan, tetapi malah mendapat gambaran yang menakutkan tentang segera berakhirnya kehidupan di dunia ini. Dengan mencomot beberapa ayat Kitab Suci seolah-olah dengan adanya ketidakstabilan yang dihadapi itu, sebagai tanda kesudahan dunia akan segera datang.

      Memang, seperti pernah langit dan bumi ini diciptakan, demikian juga akan tiba saatnya semuanya itu berakhir. Semuanya akan terjadi, tetapi Yesus mengingatkan agar jangan takut. Semua ini adalah tanda-tanda awal, bukan tanda kesudahannya telah dekat. Ia tidak merahasiakan beberapa tanda sebelum hari kedatangan-Nya yang mulia, bahwa para murid akan menghadapi banyak tantangan. Menjumpai para nabi palsu dan petualang rohani, menghadapi peperangan dan pemberontakan, terjadi gempa bumi dahsyat, kelaparan dan penyakit sampar, akan ada penangkapan dan penganiayaan, pertentangan dan pengkhianatan dari anggota keluarga, serta gejala alam yang penuh misteri.
      Harus diakui bahwa menjalani kehidupan di dunia ini seringkali tidak semua dapat dipahami, apalagi membayangkan tentang akhir zaman. Dalam kehidupan umat kristiani dari zaman Yesus sampai sekarang akan selalu menghadapi penolakan-penolakan, banyak orang yang membenci. Bahkan musuh Kristen ada dalam lingkungan sendiri. Yesus sendiri pun diserahkan oleh seorang rasul-Nya. Tetapi dalam hal ini, Yesus hanya meminta kita untuk tetap bertahan dan bertekun. Dengan bertahan dan bertekun, berarti kita diminta tetap beriman teguh dan tetap setia kepada Tuhan. Kita yakin, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya yang sedang mengalami penderitaan atau siksaan, karena Tuhan menjamin bahwa tidak sehelai rambut kepala yang kita miliki akan hilang.
      Untuk itu, tidak perlu takut dan cemas menghadapi aneka teror, jebakan, dan gertakan yang mencoba melemahkan iman kita. Bermacam-macam musibah dan bencana alam serta kerusuhan hendaknya kita hadapi dengan tabah dan tenang. Beberapa kejadian yang menguji dan menuntut kesabaran kita, merupakan kesempatan untuk semakin meneguhkan jati diri kita sebagai pengikut-Nya.
      Marilah dalam menantikan kedatangan Tuhan yang mulia, kita percaya akan penyelenggaraan ilahi. Semuanya kita hadapi dengan tenang dan waspada, sambil tetap melakukan pekerjaan sehari-hari sesuai dengan profesi kita masing-masing. Karena Tuhan akan selalu menyertai dan membela kita dengan kata-kata hikmat, sehingga kita tidak dapat ditentang atau dibantah oleh lawan-lawan. (FX. Mgn)

Senin, 01 November 2010

ALLAH ADALAH ALLAH ORANG HIDUP

MG BIASA XXXII (C)
Hari Minggu, 7 November 2010

2 Mak 7:1-2. 9-14;
2 Tes 2:15-3:5;  
Luk 20:27-38 (20:27.34-38)

      Di Jawa dikenal istilah Bahu Laweyan, yaitu perempuan yang memiliki ciri-ciri khusus pembawa sial berupa toh (tompel) sebesar uang logam yang terletak pada bahu kiri. Siapa saja yang menikahi perempuan tersebut bakal mati dengan cara mengenaskan.
      Mitos ini diangkat juga pada zamannya Yesus ketika orang Saduki yang tidak percaya tentang kebangkitan, mempersoalkan tentang hidup sesudah mati. Mereka menanyakan kasus perempuan yang menikah sampai tujuh kali demi memperoleh keturunan. Namun sampai tujuh kali berganti-ganti suami, semuanya mati tanpa meninggalkan keturunan. Sebab, menurut ajaran Musa yang mereka yakini kalau seorang laki-laki menikah kemudian mati tetapi tidak memberikan keturunan, maka saudara laki-lakinya harus menikahi perempuan itu agar ada keturunan yang melanjutkan keluarga itu. Orang-orang Saduki bertanya kepada Yesus, siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya nanti di surga?     
      Yesus menjawab dengan singkat bahwa di surga nanti tidak ada orang kawin dan dikawinkan lagi, kita tidak akan mati lagi, kita hidup sama seperti malaikat, kita adalah anak-anak Allah. Dari jawaban itu setelah kebangkitan orang mati, tidak ada tanda-tanda bahwa kita akan meneruskan hidup duniawi yang seperti sekarang ini, yaitu makan atau minum, pesta atau kawin.
      Yesus menambahkan, “Masalah kebangkitan orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Allah semua orang hidup.” Kita semua adalah anak-anak Abraham, bapa umat beriman. Beriman berarti percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan sehingga kita senantiasa berada “di hadapan Tuhan dan hidup” bersatu dan bersama dengan Tuhan.
      Seperti dalam bacaan pertama dari Kitab Makabe diceritakan seorang ibu dengan tujuh anaknya yang lebih senang hidup bersatu dengan Tuhan dalam iman. Walaupun, satu keluarga disiksa oleh raja yang tidak percaya pada Allah, agar mengkhianati hukum agama mereka. Namun ibu dan ketujuh anak itu lebih baik mati daripada harus melanggar perintah agama. Mereka meyakini bahwa kematian demi mempertahankan iman tidak akan sia-sia karena kelak mereka akan dibangkitkan lagi dan memperoleh hidup kekal.
      Mereka memang telah mati di dalam kehidupan di dunia ini, tetapi mereka tetaplah hidup, yaitu di dalam kehidupan kekal. Allah orang yang hidup itu berkenan menganugerahkan kehidupan abadi kepada umat yang berkenan kepada-Nya. Dengan demikian sikap iman kepada Allah yang hidup di dalam Kristus adalah sikap iman yang menyelamatkan. Demikian Yesus memberi tanggapan atas pertanyaan orang-orang Saduki tentang kebangkitan orang mati. Dengan jawaban itu, Yesus mau meyakinkan orang-orang Saduki bahwa kelak ada kebangkitan badan dan kehidupan kekal.
     
      Bagaimana sikap kita?
      Dihadapan Allah, semua orang hidup. Sikap iman kepada Allah yang hidup menentukan keselamatan. Keselamatan merupakan anugerah dari Allah, bukan hasil usaha dari manusia. Kita telah memperoleh anugerah iman. Melalui iman, kita diperkenankan untuk melihat karya Allah yang berkenan menebus kita dari kuasa dosa sehingga kita diselamatkan. Bagi kita, wafat dan kebangkitan Kristus merupakan jawaban atas pertanyaan, bahwa apakah nanti akan ada kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Sebab melalui Kristus, kita ditebus oleh kuasa darah-Nya sehingga kita dibebaskan dari kuasa dosa dan maut. Di dalam Kristus tersedia hidup kekal yang memampukan kita untuk bersatu dengan Allah yang hidup. (FX. Mgn)