SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Selasa, 09 Maret 2010

ALLAH ITU MAHABAIK, IA MENCINTAI ”PENDOSA” YANG MAU DATANG KEPADA-NYA


MG PRAPASKAH IV (C)
Hari Minggu, 14 Maret 2010

Yos 5-9a. 10-12;
2Kor 5:17-21;
Luk 15:1-3.11-32

Kebaikan Allah terhadap manusia ciptaan-Nya, nampak jelas dalam tindakan Putra-Nya Yesus Kristus ketika menerima para pendosa yang mau mendekat kepada-Nya. Hal itu membuat kaum Farisi dan Ahli Kitab bersungut-sungut, karena Yesus bergaul dan makan bersama-sama dengan mereka para pemungut pajak dan pendosa lainnya.

Kemarahan kaum Farisi dan ahli Kitab dijawab Yesus dengan membuat perumpamaan. Ada seorang ayah yang mempunyai dua orang anak lelaki. Si bungsu meminta bagian harta miliknya untuk mulai hidup sendiri lepas dari orang tua. Kemudian ia merantau, tetapi ia tidak menjalani kehidupan yang benar. Anak bungsu itu malah berfoya-foya menghabiskan harta miliknya. Ketika ada kelaparan ia jatuh melarat, terpaksa hidup menderita sebagai budak. Akhirnya ia memutuskan kembali kepada ayahnya.
Ketika melihat anaknya dari kejauhan, sang ayah lari menjemputnya. Ia menyuruh orang-orang untuk memberinya jubah yang terbaik, cincin, dan sepatu. Tanda ia diakui kembali sebagai anak. Kedatangannya kembali juga dipestakan.

Sementara itu anaknya yang sulung pulang dari ladang dan mendengar bahwa adiknya yang bungsu pulang dalam keadaan melarat setelah menghabiskan hartanya malah dipestakan. Si Sulung marah, tak mau masuk ke rumah ikut pesta. Anak sulung itu bersungut-sungut, “Sudah bertahun-tahun saya bekerja tanpa melanggar perintah tapi tak satu kali pun mendapat kesempatan bersuka ria. Dan kini Si Bungsu yang pemboros dan tak berbakti malah dipestakan besar-besaran.” Tetapi ayahnya keluar membujuknya, agar Si Sulung masuk ke rumah dan ikut berpesta, dengan mengatakan, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan semua milikku juga kepunyaanmu …”

Bagaimana dengan kehidupan kita?
Kehidupan kita kerapkali tidak berbeda jauh dengan kehidupan anak sulung dan anak bungsu dalam perumpamaan tadi. Identitas kita secara formal adalah umat Allah, tetapi hati dan pikiran kita seringkali sama dengan kedua anak tadi. Kita merasa bahwa hidup kita lebih saleh, tidak berfoya-foya, setia melaksanakan kehendak Allah. Masalahnya, kita menjadi sangat marah ketika Allah berkenan mengampuni orang yang berdosa dan memberi karunia-Nya kepada orang-orang yang berdosa yang mau bertobat. Sering merasa diri lebih saleh dan hidup benar, tetapi pada sisi lain kita bersikap iri-hati terhadap kebaikan Allah yang dinyatakan kepada orang-orang yang kita anggap lebih buruk daripada kita? Ternyata kedua peran, baik sebagai anak bungsu maupun sebagai anak sulung bukanlah peran yang tepat untuk kita jalani.

Lalu peran apa yang harus kita lakukan?
Peran yang seharusnya kita lakukan dengan penuh kesadaran iman adalah kita mau berperan sebagai ayah dari kedua anaknya, baik sebagai ayah yang sulung maupun ayah yang bungsu, yaitu berusaha memiliki sikap seorang bapa: “memiliki kasih seorang bapa”
Sepanjang kita menghayati bahwa Allah di dalam Kristus adalah seorang Bapa yang penuh kasih, maka seharusnya kita dengan kuasa anugerah-Nya juga bersedia memerankan kasih seorang bapa yang selalu bersedia untuk mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita. Seperti kasih Allah senantiasa tidak bersyarat. Dia tetap mengasihi kita walaupun kita seringkali tidak setia dan menyakiti hati-Nya. Kasih Allah tersebut sangat berbeda dengan sikap anak-anaknya yang lebih cenderung memiliki kasih yang bersyarat! Dengan perkataan lain, kita akan gagal memerankan kasih seorang bapa ketika kasih kita masih bersyarat. Kita tidak akan dapat memberi pengampunan yang tulus kepada sesama atau musuh selama jenis kasih kita masih dengan syarat-syarat misalnya: “Saya bersedia mengampuni, jikalau dia mau meminta maaf terlebih dahulu”, atau: “Saya bersedia memaafkan kesalahannya, jikalau dia mau datang ke rumahku untuk meminta maaf”. Beranikah kita meluruskan hidup ini? Apakah kita masih dendam seperti si Sulung atau masih seperti si Bungsu yang memboroskan harta dan berfoya-foya?

Semoga perumpamaan anak bungsu dan anak sulung tadi juga membantu mengerti kebesaran Tuhan. Ia mencintai si bungsu yang "pendosa" dan mengasihi si sulung "yang keras hatinya" itu, karena Allah itu mahabaik kepada orang-orang  yang merasa berdosa dan mau datang kepada-Nya. (FX. Mgn).