SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Senin, 21 Februari 2011

JANGAN KHAWATIR HARI ESOK

MG BIASA VIII (A)
Minggu, 27 Februari 2011

                Yes 49:14-15;
                1 Kor 4:1-5;
             Mat 6:24-34

Empatpuluhdua tahun yang lalu, Soklipo dengan istrinya pergi meninggalkan kampung halamannya merantau ke luar daerah untuk memperbaiki nasibnya agar bisa berubah menjadi lebih baik. Soklipo berpikir kalau masih bertahan dengan pekerjaannya sekarang kemungkinan masa depannya kurang baik. Kemudian ia mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mencoba berdagang, tetapi karena tidak mempunyai pengalaman dagang akhirnya bangkrut. Mereka merantau mencari pekerjaan baru, hanya dengan bermodalkan niat dan nekat.
Perasaan cemas dan khawatir nampak dalam wajahnya ketika kereta api yang mereka naiki meninggalkan setasiun. Dalam pikirannya, nanti bisa makan apa tidak ya, dapat kerjaan apa tidak ya, atau malah menjadi pengangguran? Sambil memeluk istri di sampingnya Soklipo bertanya, “Kita mengadu nasib ke daerah lain; bagaimana perasaanmu, takut apa tidak?” Istrinya hanya menyemangati, “Tuhan tidak akan membiarkan kita menderita kelaparan atau kehausan, sepanjang kita mau berusaha dan menyerahkan diri serta bergantung kepada-Nya. Jangan khawatir, kita ini kan sebagai makhluk Tuhan.”

Kata-kata istrinya mengingatkan Soklipo tentang Injil hari ini, Yesus memberikan nasihat kepada para murid-Nya agar mereka tidak khawatir akan apa yang terjadi esok. “Jangan kuatir akan hidupmu karena Bapamu yang di surga memperhatikanmu dan mengerti kebutuhanmu. Seperti Bapa yang di surga memperhatikan burung-burung di udara, bunga-bunga bakung, dan segala makhluk ciptaan-Nya, demikian Dia lebih memperhatikanmu.” Maka Yesus menasihatkan mereka agar mereka lebih mencari Kerajaan Allah dan kebenaran, dan semua yang lain akan ditambahkan kepada mereka oleh Bapa-Nya.

Kadang kala, memang ada beberapa orang yang mudah khawatir akan sesuatu. Khawatir akan apa yang mau dilakukan, akan apa yang terjadi esok dengan keluarganya dan akan hidupnya sendiri. Semakin kita khawatir akan sesuatu, semakin kita tidak bisa menghadapi persoalan dengan baik karena kita tidak tenang dan tidak bisa berpikir rasional.

Singkat cerita, Soklipo berhasil di perantauan. Mereka tidak malu bekerja kasar sampai mereka bisa mengembangkan usahanya sendiri. Soklipo bersama istrinya bekerja keras dengan penuh semangat, akhirnya berhasil mengubah nasibnya. Mereka bisa hidup layak dan bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Mereka bisa menaklukkan kekhawatiran sebelumnya, apakah yang akan mereka makan, apakah yang akan mereka minum dan apakah yang akan mereka pakai. Mereka tidak pernah lupa selalu berdoa dan menyerahkan dirinya kepada Tuhan, karena semua keberhasilannya itu berkat penyertaan Tuhan.

Bagaimana dengan kita?
Yesus mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting adalah kita mencari Kerajaan Allah sebagai yang utama. Bila terjadi, maka yang lain akan ada jalannya sendiri. Keberhasilan berupa kekayaan, kebahagiaan dan masa depan, semuanya akan bisa kita peroleh sepanjang kita selalu bersandar dan bergantung pada Tuhan.
Karena dalam Dialah, kita akan mampu dan tabah menghadapi persoalan-persoalan hidup yang akan datang. Semua kekhawatiran dan kesulitan hidup bisa kita hadapi dengan tenang dan gembira, bila kita selalu bersandar pada Allah. Dengan bersandar pada Allah, mestinya kita tidak perlu menjadi khawatir. Bukankah dengan kekhawatiran, kita tidak bisa memperpanjang hidup sedetik pun? (FX. Mgn)