SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Senin, 09 Agustus 2010

MENELADANI SIKAP MARIA DAN SETIA KEPADA KEHENDAK ALLAH


HR RY SP MARIA DIANGKAT KE SURGA
Hari Minggu, 15 Agustus 2010


Why 11:19a; 12:1,3-6a,10ab;
1Kor 15:20-26;
Luk 1:39-56

      Injil hari ini menceritakan tentang pertemuan dua orang wanita yang sedang mengandung dengan cara yang tidak biasa. Elisabet mengandung di hari tuanya, sedangkan Maria mengandung dari Roh Kudus sebelum berumah tangga. Sama-sama memiliki kandungan yang luar biasa maka mereka ingin saling menguatkan dan meneguhkan. Maria ingin menimba pengalaman pada Elisabet yang lebih dulu mengandung, demikian juga Elisabet sangat dikuatkan atas kehadiran ibu Tuhan. Kedua ibu itu betul-betul siap menghadapi persalinan kelak dengan tabah dan penuh syukur.
     
      Menurut pandangan manusia, baik Maria maupun Elisabet jelas kehilangan nama baik. Walau sekarang mengandung, tetapi Elisabet telah lama mendapat predikat perempuan mandul. Kemudian Maria mengandung tanpa suami. Namun Maria sangat paham akan keadaan dirinya, bahwa yang dikandungnya adalah Putra Allah. Demikian juga bayi dalam kandungan Elisabet adalah pemberian Allah.
      Melihat hal ini, Maria sangat peka dan tidak mau mempedulikan cemohan orang. Maka ia menempuh perjalanan naik turun bukit untuk meneguhkan Elisabet. Kehadiran Maria sungguh membawa kehidupan baru bagi keluarga Zakharia, pamannya. Bukan hanya Elisabet dan Zakharia yang senang, bahkan bayi dalam kandungan Elisabet pun bergejolak kegirangan. Begitu girangnya Elisabet menjawab salam Maria dengan penuh semangat. ”Berbahagialah engkau dan anak yang sedang kaukandung.” Ucapan Elisabet dengan penuh kejujuran dan ketulusan. Ia merasakan betapa Allah sangat menyayangi Maria, seperti ia sendiri telah mengalaminya.
      Maria dengan gembira menerima salam itu, namun sebagai hamba Allah dalam kerendahan hatinya ia mengungkapkan kegembiraannya dengan memuji Allah yang telah mengaruniakan segalanya kepadanya. ”Jiwaku memuji Tuhan, karena Ia memperhatikan hamba-Nya, rahmat-Nya  terus mengalir dalam hidupku. Ia telah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang yang lapar dan kecil.” Pertemuan yang saling membahagiakan dan membangkitkan semangat untuk memuji keagungan Tuhan. Sungguh suatu pertemuan dua pribadi yang akrab dan menggembirakan. Tuhan sendiri hadir dan menyatukan mereka.
      Perayaan Bunda Maria diangkat ke surga menunjukkan bahwa Tuhan sungguh serius dalam menyelamatkan umat manusia. Peran Bunda Maria dalam karya penyelamatan Yesus Kristus nyata dalam dirinya. Maria adalah seorang manusia biasa, tetapi karena cintanya pada Allah dan imannya yang begitu besar kepada-Nya, maka Maria sungguh dimuliakan seluruh jiwa dan raganya. Berkat kerendahan hatinya serta teladan hidupnya, sungguh pantas dan layak ia diangkat ke surga.

      Bagaimana dengan kita?
      Sebagai pengikut Yesus Kristus merasa bahwa Allah telah menyayangi kita sebagai anak-anak-Nya, seperti halnya Allah telah menyayangi Maria dan Elisabet. Ia juga menyayangi kita lewat Yesus Putra-Nya. Tentunya, kita pun harus berusaha hidup dan meneladani sikap Bunda Maria. Menjalani hidup dengan rendah hati dan peduli sesama manusia. Mau mengunjungi mereka yang sakit, yang tersisih dan yang tercabut dari lingkungannya. Berusaha membantu mereka yang mengalami kesulitan ekonomi. Masih banyak sesama kita yang merindukan kunjungan kita, serta membutuhkan dukungan dan bantuan kita. Dengan kepedulian kita mengunjungi mereka diharapkan bisa memunculkan dambaan hati untuk memuji Sang Pencipta, ”Jiwaku memuliakan Tuhan, karena Ia telah melimpahkan rahmat-Nya yang besar kepada kita.” 
      Marilah kita menjalani hidup dengan meneladani sikap Maria dan setia kepada kehendak Allah. Dengan harapan kita pun akan boleh mengalami pemuliaan dan memperoleh keselamatan. (FX. Mgn)