SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Senin, 01 Oktober 2012

MINGGU BIASA XXVII (B) Minggu, 7 Oktober 2012


YANG TELAH DIPERSATUKAN  ALLAH, JANGANLAH DIPISAHKAN MANUSIA

Kej 2:18-24;      
Ibr 2:9-11;  
Mrk 10:2-16 (Mrk10:2-12)

Pengalaman orang tua kita dulu ketika mau menikah ya menikah saja. Modalnya hanya “niat dan nekad”. Namun hidup perkawinannya selamat dan abadi sampai usia lanjut. Tidak banyak alasan seperti pasangan orang muda sekarang.
Pasangan pernikahan di zaman modern ini terlalu banyak berhitung dan pertimbangan tetapi dengan mudahnya mereka bercerai dan kawin lagi. Menurut perhitungan mereka asal sudah memiliki materi yang cukup, rumah atau apartemen yang nyaman, pekerjaan yang mapan, dianggap memenuhi syarat untuk mengarungi biduk pernikahan. Tetapi mereka lupa mempersiapkan mental dan psikis; mereka tidak siap ketika dalam perjalanan rumah tangganya menghadapi rintangan. Kemudian sifat-sifat negatifnya yang tadinya tidak nampak sekarang muncul. Mulailah perang kata-kata, ”ternyata dia kasar”, ”dia pemarah bahkan menyakiti dan maunya berkuasa saja”. Dan yang lain juga mengungkapkan, ”ternyata dia pemalas”, ”hanya bersolek dan tidak bisa masak”, ternyata ... dst.
Seringkali yang menjadi persoalan dalam rumah tangga karena perbedaan pendapat dan tekanan ekonomi, kemudian dengan mudah mereka mengambil jalan pintas bercerai. Mereka lupa bahwa dalam perkawinan Kristen tidak ada perceraian; karena itu seorang suami yang menceraikan istrinya, kecuali karena zinah lalu kawin lagi dengan perempuan lain, lelaki itu berzinah (Mark 10:11). Demikian juga sebaliknya bagi istri menceraikan suaminya kemudian kawin dengan laki-laki lain, juga dianggap berbuat zinah (Mark 10:12). Dalam hal ini Yesus menolak dengan tegas dispensasi yang diberikan Musa mengenai perceraian (Ul 24:1-4). Seperti ajaran-Nya, Yesus menegaskan bahwa apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mark 10:7-9).
Mencermati hal itu, pentingnya pasangan memahami tujuan perkawinan; yaitu melalui perkawinan agar manusia dapat menikmati kebahagiaan, memperoleh ketenteraman dalam hidupnya dan memiliki hidup yang seimbang. Mau saling berbagi dan saling mamahami kekurangan masing-masing. Semua persoalan hidup, susah atau senang dihadapi bersama suami dan istri. Berjalan dan maju bersama dalam untung atau malang. Untuk itu menurut Tuhan tidak baik manusia itu seorang diri saja, maka Tuhan memberi penolong yang sepadan dengan dia. Bagi pria ataupun wanita beranggapan kalau masih sendiri itu belum sempurna. Kemudian manusia mengharapkan pasangan hidup yang sepadan dan sederajat untuk saling melengkapi, saling menyempurnakan dan saling membahagiakan diri mereka. Kesempurnaan itu ditemukan dalam perkawinan.
Di dalam perkawinan itu ada satu segi pandangan yang menyatakan, bahwa seorang suami maupun seorang istri menuntut cinta yang mutlak dan tak terbagi dari pasangannya. Cinta itu menyeluruh dan tidak bisa diceraikan sepanjang hidup. Laki-laki dan perempuan itu menyatu erat dalam perkawinan. Keduanya menjadi satu daging. Dari situlah sejak awal Tuhan menciptakan pria bagi wanita, dan wanita bagi pria. Satu tak terpisahkan itulah cita-cita Allah mengenai perkawinan. Dari perkawinan yang monogam itulah mereka saling menemukan, saling melengkapi dan bersama-sama membangun diri. Bukan begitu ada masalah lekas bercerai, tetapi harus berusaha mengampuni dan berbaikan lagi demi keutuhan rumah tangga. (FX. Mgn)