SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Kamis, 28 April 2011

DAMAI SEJAHTERA BAGI KAMU!

MINGGU PASKAH II
Minggu, 1 Mei 2011

Kis 2:42-47;
1 Ptr 1:3-9
Yoh 20:19-31

        Di balik berita suka cita kebangkitan Yesus dari orang mati yang disampaikan Maria Magdalena kepada para murid, tetapi anehnya tidak lama kemudian sikap percaya para murid Yesus tersebut berubah menjadi ketakutan setelah mendapat ancaman para pemimpin agama Yahudi yang tidak senang kepada mereka. Sehingga mereka harus bersembunyi dan mengunci pintu-pintu. Fokus pikiran mereka saat itu adalah menyelamatkan diri sendiri; sehingga tidak lagi mampu untuk peka dan memikirkan keadaan orang lain di sekitarnya, di mana murid yang lain yaitu Tomas tidak ada di antara mereka. Pesan dari “pintu-pintu terkunci” menunjukkan keadaan hati dari para murid yang saat itu sedang tertutup atau terkunci dari dalam sehingga mereka tidak lagi mampu memikirkan kehadiran orang lain, apalagi untuk memikirkan dan percaya kepada kuasa kebangkitan Kristus.

Namun pada saat pintu rumah dan pintu hati para murid sedang terkunci rapat oleh karena perasan takut, justru di situlah Kristus yang bangkit menyatakan diri-Nya di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” Sapaan Kristus yang bangkit itu akhirnya dapat memecahkan “kebekuan hati” dan perasaan takut  yang sedang dialami oleh para murid-Nya. Mereka diajak oleh Yesus untuk mengubah ketakutan dan sikap yang egois menjadi situasi untuk menerima “selamat dan damai dari Allah”. Kristus yang bangkit pada hakikatnya hendak menghadirkan keselamatan dan damai sejahtera dari Allah, bukan perasaan takut. Sebab selama para murid masih hidup dalam sikap ketakutan dan mementingkan egonya, maka pastilah mereka akan condong untuk hidup bagi diri mereka sendiri. Tetapi ketika ketakutan dan perasaan egonya diubah oleh Allah menjadi damai-sejahtera dan keselamatan, maka mereka dapat melakukan tugas pengutusan.
Menarik memang, setelah mendapat pernyataan damai-sejahtera dan keselamatan dari Yesus, ternyata diikuti oleh tugas pengutusan, yaitu: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu”. Iman para murid diubah oleh Yesus menjadi iman yang matang. Situasi menjadi berubah ketika Yesus bangkit dan menampakkan diri kepada para murid. Mereka seperti dibangunkan, bahkan semangat mereka dibangkitkan kembali. Juga Tomas yang semula tidak percaya. Ada suatu kekuatan dari dalam diri mereka yang mengalir dan mendorong mereka untuk melakukan sesuatu tanpa rasa takut lagi. Kekuatan itu adalah keyakinan mereka bahwa Yesus yang empunya kuasa itu sungguh hidup dan beserta mereka serta kuasa Roh Allah yang dihembuskan kepada mereka. Dengan kekuatan itu mereka bersemangat mewartakan kabar kesukaan yaitu kebangkitan Yesus yang memberi kehidupan baru. Kiprah mereka yang penuh semangat mewartakan kebangkitan Yesus sangat nyata dikisahkan dalam Kitab Kisah Para Rasul.
Dampak positif dari kekuatan akan kebangkitan Yesus juga nyata dalam kehidupan orang Kristen mula-mula. Lahirnya sebuah kelompok dengan pola hidup baru yang diwarnai kesalehan kepada Allah dan kasih kepada sesama tampak dalam Bacaan pertama hari ini. Mereka bertekun dalam pengajaran Para Rasul; mereka berkumpul memecahkan roti dan berdoa serta membagi miliknya dengan sesama yang membutuhkan. Pola hidup itu menggambarkan pulihnya hubungan antara manusia dengan Allah Sang Pencipta dan manusia dengan sesamanya yang sejak semula diciptakan dalam keharmonisan. Semua itu tercipta dari kuasa kebangkitan Yesus Kristus yang mengalahkan kuasa dosa.
Semoga pengalaman para murid akan kebangkitan Yesus membawa keyakinan kita menjadi mantap, sehingga seperti Tomas kita pun dapat berseru kepada Yesus: “Ya Tuhanku dan Allahku” (FX. Mgn)

Sabtu, 23 April 2011

KEBANGKITAN KRISTUS

HARI RAYA PASKAH
Minggu, 24 April 2011

Kis 10:34a.37-43;
Kol  3:1-4
Yoh 20:1-9

 Hari ini kita semua sebagai warga Gereja merayakan Paskah dengan sukacita yang luar biasa, karena Yesus telah bangkit dari antara orang mati dan tidak akan pernah mati lagi. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dengan kebangkitan-Nya. Ia telah membuktikan bahwa Ia sungguh-sungguh Putera Allah seperti yang dinyatakan-Nya. Yesus memberi kita pengharapan akan surga jika kita telah meninggalkan dunia ini. Ia hidup abadi sebagai Tuhan dan Penyelamat kita yang mulia.

Semangat Paskah sudah sangat terasa sejak hari Sabtu Malam Paskah dengan Upacara Cahaya yang melambangkan Terang Kebangkitan. Saudara-saudara kita yang terpanggil mengikuti Yesus diterima sebagai warga baru dan dibaptis, dibersihkan  dari  dosa dan disambut kedatangannya sebagai warga Gereja. Kita pun yang telah dibaptis menjadi pengikut-Nya diajak memperbaharui Janji Baptis. Kita yang telah dibaptis dan menjadi pengikut-Nya, telah digabungkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Manusia lama kita atau dosa kita telah dikuburkan bersama Kristus dalam baptis dan menjadi manusia baru dalam kehidupan baru bersama kebangkitan-Nya. Sebagaimana Kristus wafat, lalu bangkit, demikian pula kita telah mati terhadap dosa dan bangkit untuk hidup baru sebagai anak-anak Allah.
Peristiwa kebangkitan Kristus sungguh merubah nilai dan perilaku orang yang percaya kepada-Nya. Orang yang tadinya patah semangat dan tidak mempunyai harapan hidup lagi menjadi bergairah untuk hidup baru untuk bangkit lagi. Kebangkitan-Nya sekaligus menyatakan kepada kita bahwa mengikuti Dia bukanlah suatu kegagalan dan kesia-siaan, melainkan keberuntungan.

Semangat baru ini tercermin juga pada Maria Magdalena dan para murid yang tadinya bingung dan kehilangan harapan karena kematian Yesus di salib, ternyata Yesus telah bangkit dari mati. Maria Magdalena tadinya datang ke makam mau menghormatinya, tetapi didapati batu penutup makam Yesus terguling. Katanya, “Yesus telah hilang, siapa yang mengambil tidak ada yang tahu,” seperti itu menurut keterangan para murid. Ternyata memang Yesus sudah bangkit, itulah Paskah.

Memang kalau kita melihat selama akhir pekan sejak kematian Yesus di kayu salib pada Jumat siang, iman para murid diuji habis-habisan. Sampai mereka berjumpa dengan Kristus yang sudah bangkit, mereka hanya dapat berharap dan menaruh kepercayaan pada janji-Nya bahwa Dia akan bangkit. Di luar dugaan bahwa para murid, “selama ini belum mengetahui isi Kitab Suci yang mengatakan Yesus harus bangkit dari antara orang mati.”

Bagaimana dengan kita?
Kita sendiri pun belum pernah berjumpa dengan Kristus yang bangkit secara phisik, tetapi kita bisa menemani murid yang dikasihi Yesus masuk ke dalam kubur dan “melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Kemudian, bersama dengan Maria Magdalena kita dapat merangkul Yesus sebagai Tuhan kita yang telah bangkit.
Kita tidak perlu menanti dengan penuh rasa cemas dan takut seperti yang dialami para murid Yesus dulu. Kita mempunyai Roh Kudus yang hidup dalam diri kita masing-masing, yang meyakinkan kita bahwa kebangkitan Kristus memang nyata. Iman kita akan Yesus Kristus yang bangkit dari antara orang mati, memang dari Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang  meyakinkan kita akan kenyataan bahwa kita akan melihat-Nya pada hari kedatangan-Nya kembali.
Itulah sebabnya, mengapa hari ini merupakan hari perayaan yang sangat besar bagi kita semua karena Roh Kudus membuat kebangkitan Yesus menjadi nyata bagi kita. Dia (Roh Kudus) ingin membawa kepada kita pada kemerdekaan dari dosa yang telah diperoleh berkat Yesus di atas kayu salib.
Marilah hari ini kita tidak perlu melihat Yesus dengan mata jasmani kita; kita dapat menerima Dia dalam hati kita masing-masing, untuk mengalami kebenaran-kebenaran penuh kemuliaan yang akan menyebabkan kita berseru dengan suara nyaring: “Ia telah bangkit!” ALLELUYA - SELAMAT HARI RAYA PASKAH. (http://fxmargono.blogspot.com)

Kamis, 21 April 2011

IA TELAH BANGKIT DAN MENDAHULUI KAMU KE GALILEA

SABTU SUCI – MALAM PASKAH (A)
Tirakatan Kebangkitan Tuhan
Sabtu, 23 April 2011

Kel 14:15 – 15:1;
Rm 6:3-11;   
Mat 28:1-10

Dalam Sabtu Suci ini suasana seakan-akan sepi setelah Yesus wafat, dan beristirahat dalam penantian, yang sebelumnya Ia mengalami penderitaan dan wafat di kayu salib pada hari Jumat sebelumnya. Kita semua berjaga-jaga, bersiap-siap dengan waspada menantikan kebangkitan-Nya untuk membebaskan kita dari hukuman dosa dan memulihkan kita kepada kehidupan kita dalam Allah.

Pada malam Paskah ini kita teringat akan suatu malam di Mesir ribuan tahun lalu, di mana orang-orang Israel berbondong-bondong lari meninggalkan tempat kediaman mereka menuju  pantai Laut Merah, melewati padang gurun setelah sebelumnya malaikat maut melewati rumah-rumah mereka. Mereka dikejar oleh pasukan Firaun dari belakang dan terjepit karena di depan mereka terhalang oleh laut yang luas. Pada saat yang genting itu mereka hanya berharap akan mukjizat yang terjadi. Ternyata Allah tidak membiarkan mereka mati tenggelam. Malaikat Allah, yang tadinya berjalan di depan rombongan orang Israel, lalu berjalan di belakang mereka; dan tiang awan  yang tadinya bergerak di depan mereka juga pindah ke belakang rombongan, menghalangi pasukan Firaun yang mengejarnya. Kejadian itu mereka ingat akan pesan Musa sebelumnya yang mengatakan kepada orang-orang Israel: Tuhan  akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja”

Kalau orang-orang Israel ketika menghadapi bahaya ia menunggu pertolongan Tuhan, para murid yang berada dalam  situasi serupa setelah penyaliban Yesus di Kalvari. Di mana tidak ada siapa pun yang dapat menghidupkan kembali Yesus. Sungguh, tidak ada sesuatu pun yang bisa mereka lakukan, kecuali menunggu dan berpasrah. Dalam situasi yang sudah tidak berdaya inilah, kuasa Allah memancarkan terang-Nya dengan penuh kemuliaan. Setelah mendapat kabar dari para wanita Maria Magdalena, Yohana dan Maria ibunda Yakobus pagi-pagi benar pergi ke makam tidak menemukan Yesus dalam makam. Mereka mendapat kabar dari malaikat Tuhan yang turun dari surga berkata, bahwa Yesus telah bangkit dan mendahului kamu ke Galilea.
Pada malam ini, baiklah kita menantikan Tuhan dan Juruselamat kita, dengan penuh pengharapan agar kuasa Roh Kudus-Nya bergerak dalam diri kita. Yang kita perlukan hanyalah untuk “berdiam dalam keheningan”, dan Ia akan bertindak untuk kita. Malam ini adalah malam hari yang paling terberkati ketimbang malam-malam hari lainnya, yaitu malam yang dipilih oleh Allah untuk melihat kebangkitan Kristus dari antara orang mati”

Semoga kita juga mau menimba pengalaman iman perempuan-perempuan tadi yang awalnya ada keragu-raguan, namun kemudian memperoleh jawaban pasti dari para malaikat: “Ia sudah bangkit dan mendahului kamu ke Galilea.” Dan marilah kita belajar dari iman bangsa Yahudi, yang tetap percaya bahwa cinta Allah selalu menyertai mereka kendati mendapat cobaan dalam pengembaraannya. SELAMAT PASKAH. (http://fxmargono.blogspot.com)

Senin, 18 April 2011

IA SETIA PADA BAPA SERTA RELA MENDERITA DAN WAFAT DEMI KESELAMATAN KITA

JUMAT AGUNG
Memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan
Jumat, 22 April 2011

Yes 52:13 – 53:12;         
Ibr 4:14-16; 5:7-9;   
Yoh 18:1 – 19:42

      Selama hidup-Nya Yesus setia pada Bapa-Nya dan karena cinta-Nya pada manusia Ia rela menderita sampai wafat di kayu salib karena dosa manusia.
     
      Pada saat-saat akhir hidup-Nya para sahabat-Nya meninggalkan Yesus satu persatu. Ketika Ia sedang membutuhkan dukungan, semua sahabat-Nya malah meninggalkan-Nya. Hal ini membuat pedih hati-Nya dan sangat menderita. Tatkala Yesus mengadakan perjamuan malam, Yudas meninggalkan Dia dengan mencium Yesus untuk menunjukkan kepada para serdadu bahwa Dialah orangnya. Bahkan Petrus murid kesayangan-Nya menyangkal Dia sampai tiga kali, ”Aku tidak mengenal Orang itu.”
      Ketika Yesus diadili secara tidak adil, Ia dicemoohkan oleh banyak orang, Ia disiksa dengan kejam dan diperlakukan bagaikan seorang penjahat. Para murid-Nya tak satu pun mendampingi atau membela. Tentu Yesus sangat kecewa tatkala banyak orang berubah pikiran dengan begitu cepatnya. Sekarang Ia menjadi pesakitan. Tadinya semua orang menyanjung-Nya sebagai Raja, tetapi saat itu semua berubah sikap dan berteriak, “ Salibkan Dia!, Buang saja, buang saja!” Hal ini tentu membuat hati-Nya gundah dan perang batin, seolah-olah Bapa-Nya pun meninggalkan Dia, “Ya Bapa, mengapa Engkau meninggalkan Daku.”
      Saat tergantung di kayu salib, Ia menahan sakit, lapar dan haus yang tak terperikan setelah memanggul salib menaiki bukit Golgota. Dan dari atas kayu salib dengan wajah yang tegar dan pasrah kepada Bapa-Nya, Ia mengatakan: “Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang dilakukannya.” Dari perkataan-Nya itu menunjukkan bahwa Dia sungguh mencintai manusia. Mencintai para murid-Nya yang meninggalkan Dia. Mencintai orang-orang yang mencemohkan dan mengejek Dia dan orang-orang yang menyalibkan Dia. Ia tetap setia pada Bapa-Nya yang seakan-akan meninggalkan Dia sendirian, dan sabda-Nya “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu, Kuserahkan hidup-Ku.” Kemudian Ia menundukkan kepala dan wafat.
      Kita bisa merasakan betapa besar cinta-Nya kepada kita sekalian, kepada manusia yang berdosa. Ia telah menyelesaikan tugas penebusan, menebus dosa kita. Kendati kita semua sangat berdosa, Ia tetap mengampuni dan mau menerima kita. Ia rela menderita dan menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan manusia. Semoga dengan cinta-Nya tak terbatas kepada manusia, kita semua mau bersyukur kepada-Nya dan meniru semangat-Nya. (FX. Mgn)

Jumat, 15 April 2011

SALING MELAYANI DAN BERBAGI

KAMIS PUTIH (Mengenang Perjamuan Tuhan)
Kamis, 21 April 2011

Kel 12:1-8.11-14;               
1Kor 11:23-26;              
Yoh 13:1-15

Ada dua hal penting dalam Kamis Putih ini yaitu makna Yesus membasuh kaki para murid dan Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir.
 Yesus yang adalah Tuhan dan Guru rela menjadi pelayan dan hamba bagi murid-murid-Nya. Yesus merendahkan diri-Nya sama seperti hamba dengan membasuh kaki para murid-Nya. Yesus melakukan ini sebagai tanda penyucian dan pemurnian diri. Para rasul dibersihkan dari debu dosa agar pantas dan layak duduk bersama dalam meja perjamuan Tuhan. Apa yang dilakukan Yesus ini mengingatkan kita akan Sakramen Pembaptisan dan Pertobatan.

Setelah Yesus mencuci kaki para murid-Nya, Ia langsung melanjutkannya dengan mengadakan perjamuan malam terakhir di mana Ia menyerahkan diri-Nya seutuhnya dalam rupa roti dan anggur dalam Ekaristi. Dalam Ekaristi Allah berkenan hadir untuk dibagi-bagi sebagai berkat keselamatan. Peristiwa ini secara nyata mau menunjukkan penyerahan diri-Nya secara total dan ikhlas kepada kita.
Dalam hal ini para rasul diminta untuk meneladan kerendahan hati dan pelayanan dalam karya penyucian dan penyelamatan. Para rasul tidak harus merasa sebagai orang besar karena mereka dekat dengan Yesus, tetapi mereka diminta untuk menjadi teladan kerendahan hati dan belas kasih kepada semua orang tanpa pilih kasih. Berbuat kasih pada mereka yang berdosa, yang kecil dan miskin.

Bagaimana dengan kita?
Dalam Kamis Putih ini kita diingatkan kembali untuk lebih rendah hati, saling melayani dan mengasihi. Seperti yang telah dilakukan oleh Yesus. Mau belajar dari Yesus, dengan saling menghormati dan tidak membeda-bedakan. Guru dan Tuhan yang mau merendahkan diri dan memberi contoh nyata dengan membasuh kaki yang semestinya pekerjaan itu dilakukan oleh seorang hamba. Mau mengikuti kehendak Yesus yang mengungkapkan cinta-Nya dalam tindakan dan pelayanan. Cinta dalam wujud melayani orang lain seperti yang diharapkan Yesus kepada para murid-Nya dan oleh kita sebagai pengikut-Nya. Saling mencintai dan saling berbagi, tidak usah menunggu kaya dulu untuk berbagi harta/kekayaan/rezeki, tidak usah menunggu pensiun dulu untuk berbagi waktu, tidak usah menunggu religius dulu untuk berbagi rasa/empati.
Teladan Yesus yang berani menghargai yang terendah itulah yang harus kita warisi. Coba kita kita lihat sejenak dalam kehidupan kita. Dalam keluarga misalnya, posisinya yang paling rendah dalam keluarga biasanya adalah pembantu. Bagaimana sikap kita? Sudahkah kita menghargainya atau memandang rendah mereka? Demikian juga terhadap anak-anak. Apakah kita sebagai orang tua mau dan rela mendengarkan isi hati mereka?
Marilah dalam merayakan Kamis Putih, kita hadirkan apa yang telah dimulai Yesus dalam diri kita dengan meneruskan semangat Yesus dalam sabda-Nya pada akhir perjamuan: “Bila Aku, Tuhan dan Gurumu membasuh kakimu, kamu pun harus membasuh kaki satu sama lain. Aku memberikan teladan kepadamu supaya kamu berbuat seperti tadi Kuperbuat untukmu.” (FX. Mgn)

Senin, 11 April 2011

MEMANG BENAR, DIA PUTRA ALLAH!

MG PALMA (A) Minggu Sengsara
Minggu, 17 April 201

Yes 50:4-7;
Flp 2:6-11;
Mat 27:11-54

Seringkali kita menyaksikan seorang penguasa didemo agar penguasa itu mundur, karena selama  memerintah tidak mampu menyejahterakan rakyatnya, tidak bisa menepati dan mewujudkan janji-janjinya sebelum ia mau menjabat. Dengan gigih penguasa itu ingin tetap mempertahankan kekuasaannya dengan melawan para yang demonstran serta menghadapinya dengan kekerasan.
Lain halnya dengan Yesus Kristus, Raja yang satu ini tetap mempertahankan kekuasaan-Nya, tetapi tidak dengan kekerasan melainkan dengan cinta kasih sesuai dengan prinsip dan misinya yaitu menyelamatkan umat manusia. Bahkan Ia rela dihadapkan kepada Pilatus untuk diadili, walaupun Ia tidak bersalah. Ia dituduh menghasut rakyat dengan ajaran-ajaran-Nya. Di depan Pilatus tidak terbukti bersalah, tetapi atas desakan orang banyak Ia harus menghadapi hukuman mati dan memanggul salib, mendapat siksaan, cercaan, cambuk duri dan dicemooh, dihujat serta diludahi. Sekali pun Yesus diperlakukan sebagai penjahat, tetapi Ia tidak marah dan kesal, tetapi hanya diam.
Ia menyadari serupa dengan Allah, tetapi Ia telah menghampakan diri-Nya sebagai seorang hamba. Bahkan Ia merendahkan diri dan taat sampai mati. Mati di kayu salib. Ia adalah Raja yang rela menerima hukuman mati di kayu salib karena kecintaan-Nya kepada manusia. Semua yang Ia lakukan demi keselamatan umat manusia. Ia menebus dunia dan mempersatukan umat manusia menjadi kawanan yang amat disayangi-Nya. Maka ketika mengalami penderitaan dan hinaan serta hujatan, Yesus tidak memalingkan wajah-Nya dari cercaan, karena Ia yakin takkan dipermalukan. Oleh sebab itu Yesus yang mau merendahkan diri, maka Allah mengagungkan-Nya dan dianugerahkan nama yang paling luhur, agar  semua makhluk di surga, di bumi dan di bawah bumi, tunduk dan hormat kepada-Nya. Supaya semua orang mengakuinya, bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, untuk memuliakan Allah Bapa.

Bagaimana dengan kita?
Benarkah kita masih mengakui bahwa Dia adalah Raja, bila kita mengalami perlakuan yang serupa dengan yang dialami Yesus? Ketika kita dihina, dilecehkan, diperlakukan dengan tidak adil, dimusuhi karena sebagai pengikut-Nya? Menghadapi tekanan seperti itu, apakah membuat ”ciut” hati kita dan masihkah mengharapkan Dia atau lebih baik menolak Dia?  
Kalau kita memperhatikan perkataan kepala pasukan yang berdiri dekat Yesus disalib, dimana kepala pasukan itu memberi kesaksian bahwa: ”Sungguh, orang ini adalah orang suci!” Mestinya tidak harus kecil hati dan takut tetapi lebih percaya dan lebih dekat dengan Dia. Dari situ kita semua mesti berbangga, bahwa benar Ia adalah Putra Allah. Dia yang menyertai kita, ketika kita memikul salib penderitaan hidup. Dia yang mampu memberi semangat untuk bangkit kembali bila kita jatuh. Dimana kita hidup dalam suasana tidak menentu, sering mengalami tuduhan-tuduhan palsu karena kebencian dan iri hati, mengalami ketidakadilan sosial karena semua orang hanya menomorsatukan harta dan haus kekuasaan.
Marilah dalam keadaan seperti sekarang ini kita tetap bertahan dan mempercayakan diri pada Dia yang selalu memberi jalan keluar ketika hati kita gundah karena ketakutan menghadapi pencobaan, sambil bersyukur: ”Sungguh, Dia itu Putra Allah.” Dialah Tuhan yang selalu menyertai kita. (FX. Mgn)

Senin, 04 April 2011

AKULAH KEBANGKITAN DAN KEHIDUPAN

MINGGU PRAPASKAH V (A)
Minggu, 10 April 2011

Yeh 37:12-14;
Rm 8:8-11;
Yoh 11:1-45

Seringkali di hadapan banyak orang, kita akan berusaha tampak tenang dan tegar saat menghadapi kematian dari orang-orang yang kita kasihi. Kita tidak ingin memperlihatkan perasaan dukacita di depan banyak orang. Karena sikap demikian dianggap sebagai suatu bentuk kelemahan diri; dan bisa muncul anggapan dari orang banyak bahwa kita kurang memiliki iman. Tetapi sesungguhnya di dalam hati yang terdalam, belum terlalu rela dan sanggup untuk menghadapi kematian dari orang yang kita kasihi.

Perasaan tidak rela ini juga dirasakan oleh Marta dan Maria kakaknya ketika Lazarus saudaranya meninggal. Marta dan Maria sangat berdukacita dengan peristiwa kematian Lazarus itu, walau banyak tetangga sekitarnya yang datang untuk menghibur mereka. Yesus pun datang di Betania melihat Lazarus tetapi sudah terlambat karena sudah empat hari dikuburkan. Waktu Yesus sampai di makam Lazarus, Marta bergegas menemui-Nya. Mereka senang, sedih dan juga juga jengkel. Senang bahwa Yesus akhirnya datang, sedih dan jengkel karena Yesus tidak datang dari mau datang sewaktu mereka memberi kabar ketika Lazarus sedang sakit keras.
Di tengah-tengah rasa kehilangan, kesedihan dan dukacita tersebut, Yesus menegaskan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya”
Perkataan Yesus ini sungguh mengejutkan bagi setiap orang yang mendengarnya, dan menantang kuasa maut yang selama ini tidak pernah mungkin dapat dielakkan oleh setiap manusia. Setiap orang dari waktu ke waktu tidak pernah mampu menghindar dari peristiwa kematian; tetapi kini Yesus justru menampilkan diri-Nya sebagai si pemberi kebangkitan dan hidup. Tentu bagi Marta dan Maria, perkataan Yesus sebagai kebangkitan dan hidup pastilah sangat meneduhkan dan memberi penghiburan yang tidak terkira.
Ketika Marta dan Maria melihat Tuhan Yesus menangis bersama mereka, maka mereka dapat merasakan kasih yang begitu menyentuh hati. Marta dan Maria dapat mengalami kehadiran Kristus yang ilahi sekaligus sungguh-sungguh manusiawi. Dalam kehadiran Kristus, mereka dapat mengalami kehadiran yang ilahi tidak lagi sebagai sesuatu yang sangat jauh dan asing; tetapi kehadiran yang ilahi justru dialami begitu dekat, sangat pribadi dan nyata dalam peristiwa orang-orang yang sedang berduka. Tindakan Yesus yang sangat meneguhkan, bahwa Yesus ternyata dapat menangis bersama-sama dengan kita. Dia dapat merasakan dan mengalami seluruh kesedihan, kegelisahan, ketakutan dan kedukaan kita.
Dalam hal ini kita bukan hanya membutuhkan Tuhan yang sangat penuh kuasa, tetapi juga kita membutuhkan Tuhan yang dapat merasakan setiap tetesan air mata dan penderitaan kita yang paling dalam. Karya pemulihan Kristus, ternyata bukan sekedar dinyatakan dengan perkataan-Nya yang sangat kuasa dalam kasih-Nya. Tetapi perkataan-Nya sebagai Sang Kebangkitan dan Hidup serta kasih-Nya, dibuktikan dengan cara yang sangat mengejutkan, yaitu menyuruh orang membuka batu penutup makam Lazarus; lalu berserulah Yesus: “Lazarus, marilah keluar!” Semua orang menyaksikan Lazarus telah bangkit.
Mukjizat Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, sebagai tanda bahwa Kristus telah menghadirkan kuasa Allah yang menyelamatkan dan memulihkan kekecewaan dan kecemasan manusia. Sehingga setiap orang yang mau percaya kepada-Nya  memperoleh kehidupan kekal dan anugerah keselamatan dari Allah.  (FX. Mgn)