SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Kamis, 25 Juni 2009

Kasih yang tulus

Seorang anak kecil sedang bermain dengan boneka-bonekanya di depan neneknya. Lalu neneknya itu bertanya kepadanya, “Dik, coba tunjukkan kepada nenek, boneka mana yang paling kamu sayangi di antara boneka-boneka yang kamu miliki itu?” Anak kecil itu berkata, “Sebelum aku menjawab, nenek mau berjanji tidak? Nenek harus berjanji bahwa tidak akan menertawakan jawabanku.”
Setelah neneknya berjanji bahwa dia tak akan menertawakannya, anak kecil itu lalu mengambil boneka yang kelihatan paling jelek, tangannya sudah patah dan kulitnya sudah kucel. Melihat hal ini lalu neneknya bertanya kepadanya, “Mengapa kamu menyukai boneka yang paling jelek itu?”
Jawab anak kecil itu, “Ya, boneka yang paling jelek ini kan yang paling membutuhkan kasih sayang lebih daripada bonek-boneka lainnya. Sebab boneka lainnya masih baik-baik.”

Kasih sayang anak kecil kepada bonekanya yang paling jelek itu mengingatkan kita akan hakekat kasih sayang yang tulus. Kasih yang tulus itu telah dilakukan oleh Yesus. “Sebagaimana Bapa mengasihi Aku, demikian pula Aku mengasihi kamu” (Yoh 15:9).
Yesus amat mengasihi kita meskipun kita adalah pendosa dan orang-orang yang tidak setia kepadaNya. Yesus mengasihi kita bukan karena kita telah berbuat baik kepadaNya tetapi justru karena kita ini orang-orang yang berdosa. Bahkan tidak tanggung-tanggung kasihNya kepada kita. Ia berkenan memberikan nyawaNya sendiri untuk kita. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih orang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15: 13).
Cinta Yesus kepada kita dan cinta anak kecil kepada bonekanya tadi, mengundang kita supaya kita saling mengasihi. “Inilah perintahKu, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti Aku mengasihi kamu” (Yoh 15:12.17).

Suatu hari seorang pemuda ingin mendalami hidup supaya menjadi makin sempurna. Ia pergi ke sebuah perguruan. Di sana ia mengalami pembinaan. Salah satu bentuk pembinaannya adalah ia harus menyamar dan mengubah diri menjadi seekor binatang. Maka ia berubah menjadi seekor kelinci yang kecil.
Pada suatu hari kelinci ini mengembara di hutan. Dalam pengembaraannya itu dia ditemani seekor serigala dan monyet. Di tengah hutan itu mereka berjumpa dengan seorang pendeta tua yang sedang kelaparan. Pendeta itu nampak sudah mau mati, tak berdaya.
Karena amat kasihan kepadanya, ketiga binatang itu tergerak untuk memberikan apa yang mereka miliki. Serigala memberikan satu paha kijang hasil buruannya. Lalu monyet memberikan satu tundun pisang hasil buruannya di kebun seorang petani.
Kini giliran kelinci yang tak punya apa-apa maju menghadap pendeta itu. Kelinci itu berkata, “Bapa, ini aku. Aku tidak punya apa-apa. Sekarang ambillah, masaklah dan makanlah aku.” Mendengar ketulusan kelinci itu, sang pendeta berkata kepadanya, “Engkau sekarang menjadi orang yang sempurna karena engkau bersedia memberikan seluruh hidupmu.”
Kasih yang sempurna adalah kasih dari orang yang mampu memberikan seluruh hidupnya untuk orang lain. “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih orang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15: 13).
Tindakan yang kita lakukan bisa digerakkan karena berbagai macam keinginan. Semakin tindakan kita itu digerakkan oleh karena kasih yang tulus, maka tindakan kita itu makin bermutu sempurna.

Suatu ketika seorang wartawan dari Amerika melihat Ibu Teresa di Kalkuta sedang menolong pengemis di jalan yang separoh tubuhnya sudah busuk dimakan belatung. Lalu wartawan itu berkomentar, “Dibayar 1000 US $ saja saya tidak mau melakukan hal-hal seperti itu.” Menanggapi komentar wartawan itu Ibu Teresa pun mengatakan, “Saya pun juga tak mau dibayar 1000 US $ karena saya melakukan hal ini bukan karena uang tetapi demi orang-orang yang paling miskin di antara orang-orang miskin.”
Pelayanan Ibu Teresa kepada orang miskin makin menyebar ke penjuru dunia dan namanya begitu harum karena dia melakukannya secara tulus. Tetapi sebaliknya kita ingat gerakan membagi –bagi sembako dan uang yang dilakukan oleh beberapa caleg, tak bergema apa-apa karena tindakan itu dilakukan oleh motivasi politik yakni demi mencari popularitas dan dukungan.
Kehidupan yang sehat bukan dibangun karena motivasi politis, mencari dukungan dan pamrih-pamrih tertentu tetapi karena kesediaan untuk mengasihi secara tulus dari setiap pribadi. Keluarga, Gereja dan masyarakat kita juga akan hancur bila semua pribadi berpamrih secara tidak sehat dan bukannya mau mengabdi dan mengasihi Allah dan sesama dengan tulus.
Mari kita membina diri menjadi orang-orang yang siap sedia mengasihi Tuhan dan sesama dengan tulus hati. Tuhan memberkati kita semua. (Pastor Yohanes Suratman)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar