SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERJUMPA

Selasa, 08 Desember 2009

BERBAGI KEPADA SESAMA SEBAGAI UNGKAPAN TOBAT


MG ADVEN III / C 
(Minggu, 13 Desember 2009)

Zef 3:14-18a;
Flp 4:4-7;
Luk 3:10-18

Masa penantian kedatangan Tuhan dalam minggu adven ketiga ini membawa sukacita dan pengharapan dengan ditandai pada keluarga-keluarga kristiani serta di gereja memasang lilin merah jambu yang dinamai juga lilin "Sukacita". Warna merah jambu menyimbolkan sukacita pengharapan yang tidak tertahankan lagi karena kelahiran Tuhan sudah sangat dekat. Kedatangan Tuhan yang membawa warta kegembiraan dan keselamatan.
Warta kegembiraan ini juga terpancar pada orang banyak yang mau datang dan mendengarkan pewartaan Yohanes Pembaptis di tepi sungai Yordan. Dalam pewartaannya Yohanes Pembaptis menyerukan pertobatan, bukan hanya ditujukan pada kelompok Saduki dan Farisi saja tetapi kepada semua orang. Bertobat tidak cukup dengan menyesal, tetapi diwujudnyatakan dengan perubahan hidup yang lebih baik. Perlu tindakan nyata. Itulah yang ia ajarkan kepada orang-orang yang datang kepadanya untuk minta dibaptis.
Kemudian mereka masing-masing bertanya, “Apa yang harus kami dilakukan?” Yohanes Pembaptis menganjurkan beberapa hal yang harus segera dilakukan. Berbagilah kepada mereka yang membutuhkan, pakaian, makanan, uang dsb. Kepada penarik pajak dia berkata, “Jangan menarik lebih dari yang sudah ditentukan untukmu.” Dan kepada para prajurit, dia berkata, “Jangan merampas dan memeras”. Yohanes Pembaptis menekankan kepada semua orang sesuai dengan tugasnya agar bertindak adil dan jujur, jangan merampas hak orang lain dan jangan memeras.
Pertanyaan tadi berlaku juga untuk kita semua saat ini dalam mempersiapkan diri untuk perayaan Natal. Apakah yang harus saya perbuat sebagai ungkapan tobat: seorang anak, orang tua, pegawai, pedagang, pemimpin Gereja, warga Gereja, pemimpin masyarakat, warga masyarakat, penegak hukum, militer, wakil rakyat, atau apa saja sesuai dengan tugas dan jabatan kita. Mau dan rela berbagi kepada sesama sebagai tanda tobat berupa: tenaga, pikiran, perhatian, waktu, uang, atau apa saja. Mau berdamai dengan memaafkan dan minta maaf.
Dari seruan dan semua nasihat yang disampaikan Yohanes Pembaptis tadi membuat orang banyak berpikir, apakah dia itu Mesias. Namun Yohanes Pembaptis dengan jujur mengatakan kepada orang banyak bahwa bukan dia Mesias itu, dia hanyalah saksi-Nya. Yohanes Pembaptis hanya mewartakan kabar baik tentang kedatangan Tuhan kepada orang banyak. Kabar baik yang diwartakannya agar bisa mendorong orang lain untuk mencari tahu apa yang harus mereka perbuat. Mereka dimotivasi untuk solider dengan orang yang tak punya, bertindak adil terhadap siapapun.
Lalu … Apakah dalam masa persiapan kedatangan Tuhan sekarang ini, orang makin terdorong untuk mencari tahu apa yang sebaiknya mereka perbuat untuk menolong sesamanya manusia, terutama yang berkekurangan atau diperlakukan tidak adil secara terus menerus ? Ataukah, semakin gampang orang berkata: “Ah, kenapa mesti repot, itu masalah mereka sendiri, untuk apa mencampuri hal itu?
Semoga semua orang mau hadir sebagai motivator kepada orang banyak untuk semakin peduli terhadap sesamanya manusia dan kepada Tuhan. Kesediaan, kesederhanan, kejujuran dalam kata dan tindakan serta pengertian yang ditampilkan kepada semua orang, turut menentukan mutu persiapan kita menyambut kedatangan Tuhan. (FX. Mgn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar